Kompas.com - 16/08/2013, 16:42 WIB
Kegiatan ibadah tawaf di Baitullah yang berada di tengah Masdjidil Haram, Mekkah. Kompas/M Syaifullah (FUL) Kegiatan ibadah tawaf di Baitullah yang berada di tengah Masdjidil Haram, Mekkah.
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk mencegah penularan virus corona yang meluas di negara Timur Tengah, pemerintah akan membekali setiap jemaah haji dengan masker khusus. Setiap jemaah akan membawa 3-4 masker.

"Masker ini bukan yang sekali pakai, dan biasa digunakan di ruang operasi, berbeda dengan yang kita lihat sehari-hari," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Dr dr Fidiansyah SpKJ, MPH, pada temu media Persiapan Operasional Haji Tahun 2013 di Jakarta, Jumat (16/8/2013).

Masker operasi digunakan karena memiliki tingkat kerapatan tinggi sehingga lebih efektif menyaring virus. Berdasarkan standar FDA, masker operasi memiliki kerapatan 0,1 mikro dan tidak memungkinkan bakteri Staphylococcus masuk.

Masker ini, kata Fidiansyah, disarankan untuk dipakai dalam keadaan sedikit lembab. Hal ini untuk melindungi area hidung dan mulut dari kekeringan akibat teriknya suhu padang pasir. Selain masker, jemaah haji juga dibekali oralit untuk menjaga kandungan cairan.

"Jumlah cairan yang tercukupi akan menjaga daya tahan tubuh jemaah. Sistem imun yang baik merupakan cara paling ampuh menghalau serangan virus," katanya.

Para jemaah juga disarankan membawa semprotan air kecil untuk menjaga kelembaban tubuh selama di Arab Saudi.

Meski saat ini ada ancaman infeksi virus corona, menurut Fidi, pemerintah tidak membuat perbedaan persyaratan kesehatan para jemaah haji yang akan berangkat. Pemerintah lebih menekankan upaya promotif preventif untuk menghalau serangan corona.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jumlah jemaah kita sudah dipotong sesuai kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Kalau kita lebih ketat menerapkan syarat kesehatan, maka lebih banyak yang tidak bisa berangkat. Kita khawatir akan banyak yang kecewa," kata Fidi.

Tahun ini Indonesia memberangkatkan 168.800 jemaah dengan porsi 50 persen jemaah berusia lanjut, 20 persen menderita penyakit kronis, dan 30 persen dalam kondisi fit.

Mengingat lansia lebih rentan tertular penyakit, Fidi menyarankan agar jemaah berlaku jujur saat pemeriksaan kesehatan. "Syarat kesehatan tidak menjadi batu sandungan dalam menjalankan ibadah haji. Jika jemaah jujur maka tindakan preventif akan lebih mudah," katanya.

Jemaah lansia dan berpenyakit kronis akan diawasi lebih ketat selama menjalankan ibadah haji sehingga tenaga kesehatan dapat bertindak cepat bila ditemukan gejala infeksi virus corona atau penyakit lainnya.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X