Kompas.com - 17/09/2013, 13:43 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorWardah Fazriyati
KOMPAS.com — Nyeri dada merupakan gejala umum yang kerap dialami penderita sindrom koroner akut (SKA) atau penderita penyakit jantung koroner, baik pria maupun wanita. Namun, ternyata tidak semua wanita penderita jantung koroner mengalami gejala ini. Kondisi seperti ini bisa mengancam jiwa karena tingginya risiko salah diagnosis.

Menurut Asosiasi Jantung Amerika, sindrom koroner akut terdiri dari beberapa kondisi, seperti angina tak stabil atau angina pectoris, yakni nyeri di dada karena berkurangnya pasokan oksigen ke otot jantung.

Studi terbaru menunjukkan bahwa 80 persen pasien jantung koroner melaporkan gejala nyeri dada. Meski begitu, nyeri dada lebih sering dialami penderita pria. Sementara satu dari lima wanita yang terdiagnosis sindrom koroner akut tidak mengalami nyeri dada.

Lantaran tidak banyak mengalami nyeri dada, studi ini mengungkapkan, wanita penderita SKA berisiko lebih tinggi atas kesalahan diagnosis. Jika ini yang terjadi, wanita berhadapan dengan risiko kematian lebih tinggi.

Meski gejala nyeri dada pada pria dan wanita tak sama, keduanya mengalami gejala lain penyakit jantung koroner, di antaranya tubuh lemas, badan panas, napas lebih pendek, keringat dingin, dan sakit di lengan kiri dan  bahu kiri. Nah, biasanya wanita penderita jantung koroner lebih sering merasakan beberapa gejala ini ketimbang nyeri dada yang lebih banyak dialami pria.

Hasil studi ini berasal dari 1.000 pasien usia 55 tahun dan di bawahnya, yang dilarikan ke rumah sakit karena penyakit jantung koroner. Rata-rata usia pasien adalah 49 tahun, dan 30 persennya wanita.

Mengapa pria dan wanita penderita jantung koroner mengalami gejala yang berbeda? Studi yang diterbitkan secara online di jurnal JAMA Internal Medicine ini belum memberikan penjelasan pasti.

Dalam laporan penelitian, para peneliti menuliskan, "Temuan ini mengindikasikan bahwa nyeri dada merupakan gejala awal yang semestinya langsung dikaitkan dengan diagnosis penyakit jantung koroner. Jadi, bagaimanapun, petugas medis perlu memiliki kecurigaan tinggi pada penderita sindrom koroner akut, terutama pasien berusia muda dan wanita, yang cenderung tidak mengalami nyeri dada."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.