Kompas.com - 24/11/2013, 16:17 WIB
Warga menggunakan masker ketika beraktifitas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013). KOMPAS IMAGES / VITALIS YOGI TRISNAWarga menggunakan masker ketika beraktifitas di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2013).
|
EditorAsep Candra

Aroma ini kerap tercium pada pagi hari. "Tiap pagi harus bangun dan nyalain kipas angin supaya baunya pergi. Kalau sudah begitu saya tidak bisa tidur lagi," kata Lily yang bekerja di sebuah pabrik farmasi. 

Menanggapi hal ini, ahli paru-paru dari RSUP Persahabatan dr. Agus Dwi Susanto Sp.P mengatakan, paparan polusi merupakan sumber utama CO selain asap rokok.

"Pengukuran kadar CO merupakan warning bagi masyarakat pentingnya melindungi diri dari polusi. Mulai saat ini masyarakat yang tinggal di kawasan rawan polusi, bisa mulai menggunakan masker dalam kegiatan keseharian. Kegiatan ini menekankan pentingnya mencegah sebelum mengobati," ujarnya.

Masker ini, kata Agus, juga bukan masker sembarangan. Masker sebaiknya memiliki kerapatan N95-N100 yang bisa didapatkan di apotik. Walau tidak mencegah masuknya gas, namun kerapatan yang tinggi membentengi tubuh dari partikel polusi sampai yang paling kecil. Hal ini tentu bisa menekan risiko terpapar polusi, dibandingkan tidak menggunakan sama sekali.

Lebih lanjut Agus mengatakan, polusi udara menyumbang 5-15 ppm kadar CO dalam tubuh. Paparan ini juga tidak langsung menimbulkan dampak parah. Butuh waktu 10 tahun sebelum polutan menumpuk dan menyebabkan berbagai penyakit, misalnya infeksi dan kanker paru. Sedangkan penyebab yang langsung dirasakan biasanya meliputi batuk kering hingga berdahak.

Tentunya, masyarakat tidak perlu menunggu kadar CO memberi dampak negatif, sebelum melaksanakan upaya pencegahan. Elly misalnya, hendak mengukur kandungan CO sekali lagi untuk meyakinkan diri. Ia juga berencana mengabarkan hal ini kepada seluruh tetangga, dan membicarakan dampak yang diterima pada pemilik bengkel.

"Padahal saya tak merasa sesak, tapi ternyata kandungan CO sudah sampai 5 ppm. Kalau begini kasihan sekali cucu dan tetangga yang masih kecil," kata Elly.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X