Kompas.com - 23/03/2015, 14:20 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Anak-anak seharusnya didorong untuk bermain di luar ruangan. Aktivitas tersebut bukan hanya baik untuk kebugaran tubuhnya, tapi juga bisa mencegah anak mengalami rabun dekat.

Rabun dekat atau miopi bisa menyebabkan objek jauh tampak kabur, sementara objek dekat terlihat jelas. Untuk menyiasatinya diperlukan kacamata minus. Dalam kondisi terparah rabun jauh bisa berujung pada kebutaan.

Kasus rabun jauh pada anak memang terus meningkat, terutama di negara-negara yang memiliki pola pendidikan yang intensif, sehingga memaksa anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam ruangan.

Kepala Ortoptik di University of Technology Sydney, Australia, Kathyrn Rose mengatakan, faktor lingkungan memiliki peran besar dalam pengembangan rabun jauh.

"Jelas bahwa ada pengaruh besar dari lingkungan terhadap rabun jauh karena tingkat prevalensi di beberapa negara telah melonjak dalam beberapa dekade," lanjutnya.

Ia menambahkan, walau banyak orang mengira rabun jauh disebabkan faktor keturunan, namun sangat jelas dari perubahan cepat bahwa ini bukan karena genetika tetapi faktor lingkungan.

Negara dengan pola pendidikan intensif menghasilkan anak-anak yang menghabiskan waktunya sangat sedikit di luar ruangan, sehingga menaikkan jumlah kasus rabun jauh.

Sebuah penelitian terbaru membandingkan anak-anak keturunan Tionghoa di Sydney dengan anak-anak Tionghoa di Singapura. Hasilnya, anak-anak yang tinggal di Australia memiliki tingkat masalah mata lebih rendah. Tingkat rabun jauh pada anak-anak Tionghoa di Sydney sebesar 3 persen, sementara yang di Singapura mencapai 29 persen.

Di Australia, anak-anak tersebut menghabiskan waktu 13 jam per minggu di luar ruangan, sementara di Singapura mereka berada di luar ruangan hanya sekitar 3 jam.

"Rabun jauh tidak ada kaitannya dengan etnis dan sangat berhubungan dengan gaya hidup," kata Rose.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Dailymail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pelonggaran Aturan Pakai Masker Bikin Cemas, Begini Cara Mengatasinya…

Pelonggaran Aturan Pakai Masker Bikin Cemas, Begini Cara Mengatasinya…

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus Besar

6 Cara Mencegah Kanker Usus Besar

Health
Update Hepatitis Akut: 4 Orang Bisa Sembuh

Update Hepatitis Akut: 4 Orang Bisa Sembuh

Health
4 Gejala Flu Singapura yang Perlu Diwaspadai

4 Gejala Flu Singapura yang Perlu Diwaspadai

Health
Mengapa Sarapan Penting untuk Kesehatan?

Mengapa Sarapan Penting untuk Kesehatan?

Health
Mengapa Manusia Butuh Protein?

Mengapa Manusia Butuh Protein?

Health
Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Mengapa Stres Bisa Membuat Kita Jatuh Sakit?

Health
Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Mengapa Stres Bisa Menganggu Siklus Menstruasi?

Health
Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Pentingnya Vaksin Kanker Serviks

Health
Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Gejala Klamidia, Infeksi Menular Seksual yang Suka Muncul Diam-diam

Health
7 Penyebab Hipertensi pada Anak

7 Penyebab Hipertensi pada Anak

Health
Flu Tulang

Flu Tulang

Penyakit
12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

12 Penyebab Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Health
Peripheral Artery Disease (PAD)

Peripheral Artery Disease (PAD)

Penyakit
Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Kenali Apa itu Flu Singapura, Ciri-ciri, dan Penyebabnya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.