Kompas.com - 27/05/2015, 13:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tak sedikit orang yang merasa makanan yang disantap ketika pesawat sedang mengudara terasa hambar. Well, jangan cepat-cepat menyimpulkan kalau makanan tersebut kurang dibumbui. Karena penjelasannya ternyata ada di dalam pesawat itu sendiri. 

Studi terbaru dari Cornell University yang memberikan penjelasan tersebut. Menurut riset yang disebutkan dalam News Health, lingkungan yang berisik di dalam kabin pesawat udaralah yang dapat mengubah rasa makanan. 

Dalam studi ini, 48 orang diberikan beragam larutan yang diisi dengan lima rasa dasar yaitu manis, asin, asam, pahit, dan umami (kata dalam bahasa Jepang untuk rasa gurih yang dijumpai pada makanan seperti bacon, tomat, keju, dan kecap asin).

Pertama, mereka menyesap rasa tersebut dalam suasana hening. Kemudian, ketika mereka menggunakan headset dengan kebisingan sekitar 85 desibel, yang dirancang menyerupai dengungan mesin pesawat. 

"Studi kami menegaskan bahwa dalam lingkungan bising, indera perasa berkompromi. Menariknya, ini spesifik terhadap rasa manis dan umami. Dengan rasa manis sedikit dihambat dan rasa umami secara signifikan diperkuat," terang Robin Dando, asisten profesor ilmu pangan.

Menurutnya, sifat multisensori dari lingkungan tempat menyantap makanan, dapat mengubah persepsi terhadap makanan yang dikonsumsi. 

Ini bukan pertama kalinya untuk mengetahui alasan dibalik rasa makanan dalam pesawat. Fraunhofer Institute, institut penelitian di Jerman melakukan studi terhadap penjelasan makanan yang terasa enak di darat akan terasa tidak enak saat di udara.

"Di ketinggian 35 ribu kaki, hal pertama yang berpengaruh adalah indera perasa," sebut Grant Mickels, chef eksekutif untuk pengembangan kuliner dari Lufthansa's LSG Ski Chefs dalan Conde Nast Traveler. Dijelaskan oleh Mickels, kualitas dari makanan dan bahan-bahannya bukan menjadi hal yang disalahkan, melainkan cara Anda mengalaminya. 

"Tes yang dilakukan Fraunhofer Institute mengungkapkan bahwa atmosfer kabin yang diberikan tekanan pada 8.000 kaki, digabungkan dengan udara kabin yang dingin serta kering, membuat indera pengecap menjadi kebas hampir seperti ketika Anda mengalami selesma," urai Mickels. 

Persepsi terhadap rasa asin dan manis, turun hingga 30 persen pada ketinggian yang lebih tinggi di atas permukaan laut. Meski pengecap yang diredam menjadi alasan utama dibalik makanan yang terasa tidak enak di pesawat, dikatakan Harold McGee, penulis On Food and Cooking: The Science and Lore of the Kitchen, perjalanan dari dapur katering hingga ke piring penumpang juga bisa memakan waktu cukup lama.

Berita baiknya, penelitian dapat ini dapat membantu mencari cara untuk membuat makanan di atas udara terasa lebih enak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.