Turunkan Angka Kematian Bayi, Perempuan Harus Punya Pengetahuan Kehamilan

Kompas.com - 17/05/2016, 18:07 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil sementara Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia mencapai 22 per 1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita (AKBA) mencapai 26 per 1000 kelahiran hidup. Meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, jumlah tersebut masih terbilang cukup tinggi.

 

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan, salah satu faktor tingginya AKB dan AKBA adalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan kehamilan. Masalah ini lebih sering terjadi di daerah dengan banyak masyarakat yang kurang mampu.

 

"Kalau ibunya sehat, ibunya mengerti tentang kesehatan, mengerti tentang kehamilan kita tentu tidak mengharapkan kelahiran bayi berat badan rendah. Saya meminta betul kaum perempuan harus berpengetahuan," kata Nila dalam acara peluncuran kampanye "Every Last Child-Berpihak Pada Anak" di Gedung Kementerian Kesehatan, Selasa (17/5/2016).

 

Nila mengungkapkan, AKB maupun AKBA lebih banyak ditemui di wilayah Indonesia bagian Timur, karena kurangnya pendidikan mengenai kesehatan kehamilan.

 

 

Menurut Nila, untuk mengatasi masalah ini sebenarnya tidak hanya dimulai dari ibu hamil, melainkan sejak usia sekolah.

 

Seharusnya, anak-anak remaja sudah diberi pengetahuan kesehatan reproduksi. Hal ini untuk mencegah remaja melakukan hubungan seks berisiko. Untuk diketahui, salah satu penyumbang angka kematian ibu dan bayi adalah kehamilan yang terlalu muda.

 

"Barangkali bisa mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di sekolah," kata Nila.

 

Sementara itu, Deputy CEO Save the Children International, Janti Soeripto mengatakan, untuk menurunkan angka kematian ibu, bayi, maupun balita juga perlu didukung akses terhadap fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan sering kali sulit didapat bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil.

 

Janti mengatakan, semua anak di Indonesia maupun seluruh dunia berkah mendapat hak yang sama untuk kelangsungan hidup dan akses pelayanan kesehatan hingga pendidikan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X