Kompas.com - 12/08/2016, 11:45 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kapan terakhir kali Anda mematikan gadget dan internet selama 24 jam? Bila jawabannya "sudah lupa" atau "tidak pernah", maka detoks digital adalah yang Anda butuhkan.

Hidup di dunia digital berarti kita menghadapi berbagai hal yang menuntut perhatian terus menerus. Email dari kantor, percakapan di grup chatting, media sosial, dan masih banyak lagi.

Masalahnya, tanpa disadari berbagai perangkat digital itu telah mendistraksi kita dari hal yang sedang kita lakukan, bahkan media sosial membuat kita merasa kesepian dan tidak puas dengan diri sendiri.

"Kita cenderung jadi membandingkan diri dengan orang lain, emosi kita seperti dibenturkan. Merasa iri mengapa hidup kita tak seperti orang yang kita lihat di media sosial," kata Adjie Silarus, praktisi meditasi.

Kepercayaan diri atau self esteem yang turun itu bisa menyebabkan kita membenci diri sendiri. Itu adalah gejala dari gangguan kecemasan media sosial atau social media anxiety disorder.

Gangguan kecemasan media sosial itu, menurut Adjie, bisa dialami siapa saja, tak terkecuali orang-orang yang kita anggap sudah terkenal dan memiliki banyak penggemar.

"Rasa tidak puas tidak pernah ada ujungnya. Siapa pun akan gampang membandingkan diri dengan orang lain," kata pria yang merupakan lulusan cum laude Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini.

Rasa iri, marah, kecemasan, dan berbagai emosi negatif lain sebenarnya merupakan racun bagi jiwa kita. Bila dibiarkan tentu dampaknya juga akan dirasakan oleh fisik.

Untuk mengatasinya, Adjie menyarankan agar kita secara rutin mengistirahatkan pikiran dan perasaan kita melalui meditasi.

"Sebaiknya setiap hari ada waktu-waktu tertentu, sekitar 5-10 menit untuk meditasi. Ini bisa jadi detoks emosional,' katanya.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Jenis Masker yang Efektif Cegah Varian Omicorn Menurut CDC

Ini Jenis Masker yang Efektif Cegah Varian Omicorn Menurut CDC

Health
3 Tipe Diet yang Direkomendasikan untuk Penderita PCOS

3 Tipe Diet yang Direkomendasikan untuk Penderita PCOS

Health
10 Macam Penyakit yang Ditandai dengan Sakit Kepala

10 Macam Penyakit yang Ditandai dengan Sakit Kepala

Health
Benarkah MSG Berbahaya untuk Kesehatan?

Benarkah MSG Berbahaya untuk Kesehatan?

Health
Hipersalivasi (Ptyalism)

Hipersalivasi (Ptyalism)

Penyakit
Sakit Kepala Hebat Mendadak, Waspadai Pendarahan Intraserebal

Sakit Kepala Hebat Mendadak, Waspadai Pendarahan Intraserebal

Health
Benarkah KB Spiral Dapat Menyebabkan Gemuk?

Benarkah KB Spiral Dapat Menyebabkan Gemuk?

Health
14 Penyebab Bangun Tidur Pinggang Sakit dan Cara Mengatasinya

14 Penyebab Bangun Tidur Pinggang Sakit dan Cara Mengatasinya

Health
Tetanus

Tetanus

Penyakit
17 Tanda Bahaya Kram Perut saat Hamil yang Pantang Disepelekan

17 Tanda Bahaya Kram Perut saat Hamil yang Pantang Disepelekan

Health
VIPoma

VIPoma

Penyakit
7 Cara Menghilangkan Fatty Liver dengan Obat dan Gaya Hidup Sehat

7 Cara Menghilangkan Fatty Liver dengan Obat dan Gaya Hidup Sehat

Health
Insufisiensi Pulmonal

Insufisiensi Pulmonal

Penyakit
4 Penyebab Hidung Meler yang Perlu Diketahui

4 Penyebab Hidung Meler yang Perlu Diketahui

Health
Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid Bulosa

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.