Kompas.com - 16/01/2020, 21:00 WIB

Para orangtua maupun para dokter lebih familiar dengan attention deficit hyperavtive disorder (ADHD) atau kesulitan belajar ketika membahas soal gangguan perkembangan anak.

Jenni membeberkan hasil sebuah survei yang dilakukan terhadap 255 dokter anak, 501 orangtua dan 202 guru di luar negeri.

Baca juga: Hati-hati Orangtua, Marah pada Anak Sebabkan 11 Dampak Fatal

Hasilnya adalah, hanya 41 persen dokter anak yang mengenal GPK, sementara 99 persen dokter anak mengenal ADHD dan 93 persen mengenal kesulitan belajar.

Sedangkan diketahui hanya 6 persen guru sekolah atau orangtua yang mengenal GPK, sementara 74 persen telah mengetahui soal ADHD.

Meski belum ada survei seperti itu, dia yakin di Indonesia kondisinya tidak berbeda.

Cara menangani canggung

GPK bisa juga dipahami sebagai istilah pengganti sindrom anak lamban (clumsy child syndrome).

Istilah itu digunakan untuk menggambarkan anak dengan inteligensia normal, tanpa kelainan medis yang teridentifikasi, namun mempunyai gangguan koordinasi yang berpengaruh pada performa akademik dan sosialisasi.

Menurut Jenni, penelitian telah membuktikan bahwa pada umumnya kelambanan ini cenderung dapat menetap sampai dewasa.

Dia memandang remaja dengan GPK sudah sewajarnya mendapat perhatian dari para orangtua dan guru.

"Mereka umumnya berisiko mengalami kesulitan belajar, masalah emosi dan perilaku," jelas Jenni dalam tulisannya.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.