Kompas.com - 01/06/2020, 14:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Gaya hidup pasif banyak menjangkiti generasi masa kini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 60 hingga 85 persen dari populasi di seluruh dunia tidak melakukan aktivitas yang cukup.

Tumpukan pekerjaan menjadi salah satu penyebab orang lebih banyak menghabiskan waktu dibalik meja daripada aktif bergerak, terutama di kalangan pekerja kantoran.

Kondisi pandemi Covid-19 saat ini nampaknya tak jauh berbeda. Pasalnya, orang-orang harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk mencegah penyebaran virus.

Tentunya, ini membuat gaya hidup pasif semakin tinggi. Padahal, aktivitas fisik yang kurang bisa berbahaya bagi kesehatan kita.

Baca juga: Cara Aman Berenang di Pantai atau Kolam saat Pandemi Covid-19

Risiko gaya hidup pasif

Melansir laman Lifespan, gaya hidup pasif bisa menimbulkan efek berikut:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • meningkatkan risiko kanker
  • memicu kecemasan dan depresi
  • meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular
  • obesitas
  • penurunan massa otot
  • meningkatkan tekanan darah dan kolesterol.

Tips berolahraga

Sebenarnya, kita tak perlu melakukan olahraga setiap hari atau menghabiskan waktu berlama-lama untuk mencegah efek gaya hidup pasif.

Kita juga harus menyediakan hari di mana otot-otot kita untuk beristirahat. Jadi, kita tak perlu terlalu berobsesi untuk berolahraga setiap hari atau menghabiskan sepanjang hari hanya untuk berolahraga.

Pastikan rutinitas olahraga yang kita lakukan nyaman untuk tubuh dan kita bisa menikmati rutinitas tersebut.

Sebagai acuan, kita bisa menerapkan aktivitas fisik intensitas sedang selama 30 menit setiap hari atau 150 menit setiap minggu.

Namun, Jika kita melakukan latihan kardio atau angkat beban, luangkan aktu satu hari untuk istirahat dari olahraga.

Halaman:

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sifilis

Sifilis

Penyakit
Bagaimana Kolesterol Tinggi Bisa Menyebabkan Serangan Jantung?

Bagaimana Kolesterol Tinggi Bisa Menyebabkan Serangan Jantung?

Health
Psikosis

Psikosis

Penyakit
4 Gejala Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

4 Gejala Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

Health
Nistagmus

Nistagmus

Penyakit
6 Makanan Rendah Natrium untuk Meningkatkan Kesehatan Jantung

6 Makanan Rendah Natrium untuk Meningkatkan Kesehatan Jantung

Health
Tamponade Jantung

Tamponade Jantung

Penyakit
9 Gejala Kekurangan Natrium yang Perlu Diwaspadi

9 Gejala Kekurangan Natrium yang Perlu Diwaspadi

Health
Intoleransi Laktosa

Intoleransi Laktosa

Penyakit
3 Manfaat Kesehatan Jahe yang Sayang Dilewatkan

3 Manfaat Kesehatan Jahe yang Sayang Dilewatkan

Health
Cacar Monyet

Cacar Monyet

Penyakit
 4 Cara Mengatasi Kelopak Mata Beda Sebelah yang Aman

4 Cara Mengatasi Kelopak Mata Beda Sebelah yang Aman

Health
Buta Warna

Buta Warna

Penyakit
13 Penyebab Air Liur Meningkat yang Perlu Diwaspadai

13 Penyebab Air Liur Meningkat yang Perlu Diwaspadai

Health
Cedera Tendon Achilles

Cedera Tendon Achilles

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.