Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 15/07/2020, 13:32 WIB
Ariska Puspita Anggraini

Penulis

KOMPAS.com - Terapi plasma konvalensen menjadi harapan pasien Covid-19 di dunia.

Selama ini, memang belum ada obat yang terbukti aman dan efektif untuk mengobati Covid-19.

Namun, para peneliti telah membuktikan penggunaan plasma darah dari pasien Covid-19 yang telah pulih bisa mengobati orang lain yang menderita penyakit ini.

Melansir data Mayo Clinic, orang yang berhasil pulih dari Covid-19 mengandung antibodi.

Antibodi merupakan molekul yang telah mengenali dan mampu melawan patogen, seperti virus, yang menyebabkan penyakit.

Baca juga: 8 Ciri-ciri Kanker Payudara Tahap Awal, Tak Selalu Benjolan

Itu sebabnya, peneliti berharap plasma darah dari orang-orang yang telah pulih dari infeksi virus corona bisa meningkatkan kesembuhan orang yang masih berjuang melawan virus tersebut.

Cara ini diharapkan dapat membantu sistem kekebalan tubuh pasien untuk memerangi virus dengan lebih efisien.

Terapi pemberian plasma darah ini juga diklaim bisa mencegah komplikasi dari infeksi Covid-19.

Maka dari itu, para ahli kesehatan berharap mereka yang telah pulih dari Covid-19 bisa mendonorkan darah mereka untuk menekan angka kematian infeksi virus ini.

Riset Nasional AS

Terapi plasma konvalensen untuk memerangi infeksi virus corona telah diuji oleh sekelompok peneliti dan dokter di AS.

Penelitian yang diberi nama "Proyek Plasma Konvensional COVID-19 Nasional AS" itu telah diterbitkan dalam The Journal of Clinical Investigation pada Maret 2020.

Dalam riset tersebut, peneliti berpendapat bahwa terapi plasma darah konvalensen memiliki manfaat potensial untuk pengobatan Covid-19.

Asal Mula

Gagasan mengenai penggunaan plasma darah ini telah ada sejak akhir abad ke 19 ketika fisiolog Emil von Behring dan ahli bakteriologi Kitasato Shibasaburou menemukan antibodi yang ada dalam komponen darah untuk melawan infeksi bakteri diptheria.

Sejak saat itu, dokter telah menggunakan terapi antibodi ini untuk mengobati atau mencegah infeksi bakteri dan virus, termasuk bentuk pneumonia, meningitis, dan campak.

"Jadi itu ide lama, dan saya pikir penelitian ini bertujuan untuk mengingatkan teman-teman saya, pihak berwenang, bahwa terapi ini untuk mengatasi pandemi ini," ucap Dr. Arturo Casadeval, selaku pemimpin riset.

Penelitian terbaru telah menunjukkan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 telah mengembangkan antibodi yang dapat bereaksi terhadap virus corona.

“Sekarang ada beberapa penelitian yang menunjukkan ketika orang pulih dari virus, mereka memiliki antibodi penawar darah yang mampu membunuh virus,” tambah Dr. Casadevall.

Baca juga: Osteoarthritis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dan Cara Mencegah

Kekurangan

Meski demikian, Dr Casadevall menyatakan terapi ini bisa saja tidak berjalan efektif karena kebanyakan pasien merespon terapi terlalu lambat.

Riset yang diterbitkan dalam National Library of Medicine juga menyebut terapi ini bisa menyebabkan reaksi alergi dan anafilaksis, cedera paru akut dan hemolisis pada beberapa orang.

Efek samping bisa ringan hingga fatal, tergantung kondisi tubuh orang tersebut.

Itu sebabnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga menyetujui penggunaan terapi ini hanya untuk situasi darutat.

Terlepas dari hal itu, terapi ini memberi harapan baru untuk mengakhiri pandemi Covid-19 daripada pemberian vaksin dan obat yang pengembangannya membutuhkan waktu lebih lama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com