Kompas.com - 18/08/2020, 06:06 WIB
Ilustrasi ketombe shutterstockIlustrasi ketombe

KOMPAS.com - Ketombe menjadi masalah rambut dan kulit kepala yang umum terjadi pada pria maupun wanita.

Sebenarnya, ketombe adalah kondisi umum yang menyebabkan kulit kepala mengelupas. Kondisi ini umumnya tidak serius maupun menular.

Namun, hal yang paling mengganggu dari ketombe adalah rasa gatal pada kulit kepala.

Baca juga: 7 Cara Mudah Menghilangkan Ketombe Secara Alami

Selain itu, serpihan yang timbul akibat hal ini juga kerap membuat malu penampilan.

Terlebih lagi, ketombe sering menjadi kondisi yang sulit diatasi dan membandel.

Jika yang terjadi adalah ketombe ringan, kita bisa mengatasinya dengan sampo harian yang lembut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tapi jika ketombe membandel, mungkin Anda perlu berkonsultasi dengan dokter atau menggunakan sampo obat.

Ini karena penggunaan sampo anti-ketombe yang dijual di pasaran mungkin hanya menghilangkan gejalanya untuk sementara tapi kemudian akan kembali lagi.

Tanda ketombe

Meski bukan masalah kesehatan yang serius, Anda perlu mengenal gejala ketombe. Melansir dari Mayo Clinic, beberapa ciri ketombe di antaranya:

  • Serpihan kulit kepala di rambut, alis, jenggot, kumis, atau jatuh di bahu Anda.
  • Kulit kepala gatal
  • Kulit kepala bersisik atau berkerak

Tanda-tanda tersebut mungkin bisa menjadi lebih parah saat Anda mengalami stres atau di musim kemarau.

Sebagian besar ketombe tidak memerlukan perawatan dokter. Kondisi ketombe ringan dapat diatasi menggunakan sampo anti-ketombe yang dijual bebas di pasaran.

Namun, pada kasus yang lebih parah Anda mungkin perlu memeriksakan diri ke dokter.

Baca juga: 7 Cara Alami Membasmi Ketombe yang Membandel

Komplikasi

Jarang ada komplikasi yang terjadi akibat ketombe. Namun, ketombe bisa menjadi tanda kondisi medis yang lebih serius.

Untuk itu, Anda perlu mengamati bagaimana gejala ketombe yang terjadi. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami hal-hal berikut ini:

  • Ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, nyeri tekan, atau bengkak
  • Ketombe sangat parah
  • Ada tanda-tanda eksim, psoriasis, atau kulit kepala terasa sangat gatal

Komplikasi ketombe biasanya bukan terjadi akibat kondisinya tapi perawatan yang kurang tepat.

Penyebab ketombe

Sayangnya, hingga saat ini penyebab pasti ketombe tidak diketahui secara pasti.

Melansir dari Medical News Today, salah satu teori menyebut bahwa ketombe berkaitan erat dengan produksi hormon. Pendapat ini muncul karena biasanya ketombe muncul pada masa pubertas.

Meski begitu, beberapa hal ini juga bisa jadi penyebab ketombe.

1. Dermatitis seboroik

Dermatitis seboroik terkait erat dengan infeksi jamue Malassezia. Jamur ini biasanya hidup di kulit kepala dan memakan minyak yang dikeluarkan folikel rambut.

Orang dengan dermatitis seboroik biasanya mengalami iritasi, kulit berminyak, dan cenderung berketombe.

Baca juga: 5 Penyebab Gatal di Kulit Kepala, Bukan Hanya Ketombe

Ciri Anda mengalami kondisi ini adalah kulit menjadi merah, berminyak, dan tertutup sisik putih atau kuning.

Pada beberapa kasus, infeksi jamur ini dapat menjadi terlalu aktif dan menyebabkan kulit kepala yang teriritasi menghasilkan sel kulit ekstra.

Akibatnya, sel kulit ekstra ini mati dan rontok kemudian bercampur dengan minyak dari rambut dan menghasilkan ketombe.

2. Jarang menyisir rambut

Jarang menyisir rambut meningkatkan risiko ketombe. Ini karena proses menyisir rambut membantu pengelupasan kulit kepala secara normal.

3. Kulit kering

Orang dengan jenis kulit kering lebih cenderung mengalami ketombe.

Kulit kering juga merupakan penyebab umum kulit kepala gatal dan mengelupas.

Biasanya, ketombe yang berasal dari kulit kering cenderung memiliki serpihan yang lebih kecil dan tidak berminyak.

4. Sensitivitas terhadap produk perawatan rambut

Pada beberapa orang, produk perawatan rambut justru dapat memicu ketombe. Tak hanya itu, beberapa produk dapat menyebabkan kulit menjadi kemerahan, gatal, dan bersisik.

5. Kurang atau terlalu banyak keramas

Sering keramas dapat menyebabkan ketombe karena dapat mengiritasi kulit kepala.

Namun, terlalu jarang atau tidak pernah keramas juga bisa menyebabkan kondisi ini. Hal itu karena ketika kita jarang keramas akan terjadi penumpukan minyak dan sel kulit mati.

Baca juga: Berapa Hari Sekali Kita Harus Keramas?

6. Kondisi kulit tertentu

Ketombe juga bisa menjadi tanda dari kondisi kulit tertentu seperti psoriasis, eksim, atau kelainan kulit lain.

7. Kondisi medis

Selain kondisi kulit tertentu, ketombe juga bisa menjadi tanda dari kondisi medis yang lebih serius.

Orang dewasa dengan penyakit Parkinson dan beberapa penyakit neurologis lain juga lebih rentan terhadap ketombe.

Selain itu, salah satu penelitian juga menemukan bahwa 30 hingga 83 persen orang dengan HIV mengalami dermatitis seboroik yang menyebabkan ketombe.

Penelitian terhadap orang dengan penyakit jantung juga menunjukkan hal yang serupa. Pasien yang dalam masa pemulihan dari serangan jantung atau stroke mungkin lebih rentan terhadap ketombe.

8. Pola makan

Sudah banyak dibuktikan bahwa konsumsi makanan sehat memberi banyak dampak baik bagi tubuh, tak terkecuali kesehatan rambut dan kulit kepala.

Sedangkan pada orang yang tidak cukup konsumsi makanan mengandung seng, vitamin B, dan beberapa jenis lemak dapat meningkatkan risiko ketombe.

9. Stres

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, stres dapat memicu ketombe.

Faktor risiko

Hampir semua orang dapat mengalami masalah ketombe. Tapi, beberapa faktor tertentu dapat membuat Anda lebih rentan mengalaminya.

Baca juga: Stres Bisa Memicu Rambut Rontok, Begini Cara Mengatasinya

Beberapa faktor risiko yang mungkin berperan, di antaranya:

1. Usia

Ketombe biasanya dimulai pada usia pubertas. Hal ini kerap dikaitkan dengan masalah peningkatan hormon yang terjadi pada usia-usia tertentu.

2. Laki-laki

Beberapa penelitian menemukan bahwa laki-laki lebih sering mengalami masalah ketombe dibanding perempuan.

Ini membuat beberapa peneliti berpendapat bahwa hormon pada pria mungkin bisa menjadi salah satu faktor risiko ketombe.

3. Penyakit tertentu

Beberapa penyakit yang menurunkan sistem kekebalan tubuh dapat meningkatkan risiko kondisi yang menyebabkan ketombe seperti dermatitis seboroik.

Cara mengatasi ketombe ala rumahan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketombe biasanya bukan kondisi yang serius. Kondisi ini umumnya dapat diatasi dengan menggunakan sampo yang lembut.

Tapi, selain penggunaan sampo, ada beberapa hal yang juga bisa Anda lakukan di rumah untuk mengurangi tingkat keparahan ketombe.

1. Belajar mengelola stres

Stres dapat meningkatkan keparahan ketombe. Stres mempengaruhi kesehatan Anda secara keseluruhan dan membuat lebih rentan terhadap sejumlah kondisi dan penyakit.

Untuk itu, mengelola stres perlu Anda lakukan jika tidak ingin ketombe bertambah parah.

Baca juga: Masturbasi Penyebab Rambut Rontok, Mitos atau Fakta?

2. Keramas lebih sering

Bagi Anda yang jarang mencuci rambut, perlu dipertimbangkan kembali untuk lebih sering keramas.

Apalagi jika Anda memiliki jenis kulit berminyak. Keramas lebih sering dapat membantu mengurangi penumpukan minyak yang bisa sebabkan ketombe.

3. Makan makanan sehat

Pola makan juga berpengaruh besar pada kondisi ketombe.

Coba perbaiki pola makan Anda menjadi lebih sehat dengan menambah asupan makanan yang mengandung seng, vitamin V, dan jenis lemak tertentu.

4. Berjemur

Sinar matahari dapat membantu kita mengendalikan ketombe.

Cobalah berjemur atau berkativitas di luar ruangan.

5. Membatasi produk perawatan rambut tertentu

Bagi Anda yang sensitif terhadap produk perawatan rambut tertentu, ada baiknya menghentikan penggunaannya.

Bagi sebagian orang, produk perawatan rambut dapat memicu terjadinya ketombe.

6. Pemilihan sampo

Sampo lembut dan anti-ketombe dapat membantu mengatasi kondisi ini. Ada berbagai jenis sampo anti-ketombe yang bisa Anda pilih di apotek atau supermarket.

Baca juga: 6 Tips Mengatasi Rambut Rontok, Tak Cukup Pakai Sampo

Melansir dari NHS, untuk membantu mengurangi ketombe, pilihlah sampo dengan kandungan salah satu bahan berikut:

  • Seng Pyrithione
  • asam salisilat
  • selenium sulfida (atau selenium sulfida)
  • ketokonazol
  • tar batubara
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

9 Penyebab Pergelangan Tangan Sakit yang Perlu Diwaspadai

9 Penyebab Pergelangan Tangan Sakit yang Perlu Diwaspadai

Health
9 Gejala Anemia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

9 Gejala Anemia pada Ibu Hamil yang Perlu Diwaspadai

Health
Herpes Genital

Herpes Genital

Penyakit
Hubungan Anemia dan Gagal Jantung yang Penting Diketahui

Hubungan Anemia dan Gagal Jantung yang Penting Diketahui

Health
Sindrom Kompartemen

Sindrom Kompartemen

Penyakit
Menopause Dini pada Wanita Terjadi Pada Usia Berapa?

Menopause Dini pada Wanita Terjadi Pada Usia Berapa?

Health
Cacat Intelektual

Cacat Intelektual

Penyakit
6 Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Penyakit Jantung

6 Perubahan Gaya Hidup untuk Mencegah Penyakit Jantung

Health
Hepatitis A

Hepatitis A

Penyakit
11 Tanda Gagal Jantung dan Penyebabnya

11 Tanda Gagal Jantung dan Penyebabnya

Health
Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner

Penyakit
9 Jenis Gagal Jantung yang Harus Diketahui

9 Jenis Gagal Jantung yang Harus Diketahui

Health
Intoleransi Gluten

Intoleransi Gluten

Penyakit
6 Penyebab Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

6 Penyebab Aterosklerosis yang Perlu Diwaspadai

Health
Nyeri Tumit

Nyeri Tumit

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.