9 Cara Mencegah Kanker Serviks Saran Dokter Obgyn

Kompas.com - 13/09/2020, 10:50 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com – Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel kanker di mulut rahim, yaitu leher rahim bagian bawah.

Sama halnya dengan jenis kanker lainnya, kanker serviks juga patut diwaspadai karena bisa mengencam nyawa.

Dokter spesialis obgyn RSUD Bung Karno Surakarta, dr. Andy Wijaya, Sp.OG, M.Kes, pada sebagian besar kasus kanker serviks, penyebabnya adalah infeksi human papillomavirus (HPV).

Baca juga: 10 Penyebab Kanker Serviks yang Harus Diwaspadai

Oleh karena itu, vaksin HPV dapat dengan efektif melindungi wanita dari infeksi virus ini.

HPV sendiri merupakan virus yang mudah ditularkan.

Penularan HPV paling sering yakni lewat hubungan seks (90 persen) dan sisanya terjadi non hubungan seks.

Menurut dr. Andy, alat kontrapsepsi seperti kondom tidak sepenuhnya dapat melindungi wanita dari infeksi HPV.

“Wanita yang aktif secara seksual pada dasarnya berisiko terinfeksi HPV penyebab kanker serviks ini,” jelas dr. Andy saat diwawancara Kompas.com, Minggu (13/9/2020).

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap kanker serviks, yaitu:

  • Sering berganti pasangan seksual
  • Terlalu dini dalam berhubungan seksual
  • Terkena infeksi penyakit menular seksual
  • Lemahnya sistem kekebalan tubuh
  • Merokok
  • Adanya riwayat kanker serviks dalam keluarga

Baca juga: 5 Gejala Awal Kanker Serviks Stadium Lanjut

Gejala kanker serviks

Dalam kondisi prima, sistem kekebalan tubuh wanita sebenarnya dapat melawan virus.

Tapi sayangnya, sistem kekebalan pada beberapa wanita dalam kondisi lemah, tidak sanggup melawan virus tersebut, dan malah menyebabkan sel sehat berubah menjadi sel kanker.

dr. Andy menyampaikan, pada tahap awal kanker serviks, tidak ada ciri-ciri atau gejala pada penyakit ini.

Kanker serviks bermula ketika sel sehat yang berada di mulut rahim mengalami perubahan dan bermutasi menjadi sel-sel abnormal.

Sel-sel yang menjadi abnormal atau mengalami pertumbuhan tidak teratur tersebut kemudian menyebabkan sel-sel sehat mati.

Sel-sel ini lantas menumpuk menjadi tumor dan dapat menyebar ke organ atau jaringan lain.

Baca juga: Kanker Serviks: Gejala, Penyebab, dan Cara Menangani

Berikut ini adalah beberapa gejala awal kanker serviks pada stadium lanjut yang bisa jadi terjadi:

  • Keputihan yang tidak sembuh dengan pengobatan pada umumnya
  • Nyeri pada perut bawah
  • Perdarahan sesudah melakukan hubungan suami istri
  • Perdarahan sesudah mati haid atau menopause

Cara mencegah kanker serviks

Menurut dr. Andy, pertumbuhan kanker serviks biasanya lambat, sehingga peluang untuk mendeteksi secara dini dan pengobatan pada tahap awal penyakit cukup tinggi.

Deteksi dini kanker serviks bisa membuat penderitanya berpotensi mendapatkan keberhasilan terapi dan tingkat kesembuhan lebih tinggi, serta memiliki usia lebih panjang.

dr. Andy menyarankan deteksi dini kanker serviks bisa dilakukan pada wanita mulai usia 21 tahun.

Berikut ini beberapa cara mencegah kanker serviks yang perlu diketahui:

1. Rutin melakukan pap smear

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sampel dari vagina menggunakan speculum.

Baca juga: Mengenal Penyebab dan Cara Mudah Mengatasi Penis Gatal

Selanjutnya, dokter mengambil sel-sel dari leher rahim dan dilakukan pengujian di laboratorium guna mendeteksi gejala dan kelainan.

Tes ini dapat melihat sel-sel kanker di leher rahim dan perubahan yang mengarah pada kanker serviks.

Pap smear dianjurkan untuk dilakukan setiap 3 tahun pada wanita berusia 21-29 tahun.

2. Lakukan tes HPV DNA

Tes pemeriksaan ini dilakukan dengan mengumpulkan sel dari leher rahim untuk diuji dan mencari keberadaan dari HPV.

Prosedur pemeriksaan ini juga termasuk salah satu cara mencegah kanker serviks yang efektif dan dapat dilakukan bersamaan dengan pap smear.

Biasanya perempuan berusia 30 tahun menyukai dan nyaman dengan pemeriksaan ini.

Dalam proses pemeriksaan, wanita dapat juga menambah dengan menjalani pemeriksaan menyeluruh dengan menggunakan alat pembesar khusus, yaitu kolposkopi, untuk memeriksa sel-sel abnormal.

Baca juga: 8 Makanan untuk Meningkatkan Hormon Testosteron dalam Tubuh

Saat menggunakan kolposkopi, dokter juga akan mengambil sel-sel untuk diuji di laboratorium.

Pengambilan sampel sel ini disebut biopsi, dan memiliki beberapa jenis berikut ini:

  • Punch Biopsy

Tes ini dilakukan dengan menggunakan alat untuk mengambil sampel jaringan dari serviks.

  • Kuretase endoserviks

Pemeriksaan ini dijalankan dengan menggunakan alat berbentuk sendok untuk mengambil sampel jaringan dari serviks.

3. Melakukan pemeriksaan Loop Electrosurgical Excision Procedure

Tes ini menggunakan kawat dengan tegangan listrik rendah untuk mengambil sampel jaringan.

Pasien memerlukan pembiusan sebelum menjalani tes ini.

Baca juga: 16 Makanan untuk Meningkatkan Kesuburan Saat Program Hamil

4. Melakukan pemeriksaan biopsi kerucut

Tes ini berfungsi untuk mendapatkan sampel lapisan sel serviks yang lebih dalam.

Pemeriksaan ini harus dilakukan di rumah sakit karena membutuhkan tindakan anestesi.

5. Melakukan tes pencitraan

Pemeriksaan ini pada umumnya digunakan untuk membantu mendiagnosis indikasi kanker serviks, serta mengetahui sejauh mana penyebaran sel kanker.

Beberapa tes pencitraan yang mungkin disarankan dokter, yaitu:

  • X-ray
  • Computerized tomography (CT) scan
  • Magnetic resonance imaging (MRI)
  • Positron emission tomography (PET)

6. Makukan vaksinasi HPV

Langkah lain yang tidak kalah penting sebagai cara mencegah kanker serviks, yakni melakukan vaksinasi HPV.

Baca juga: 12 Cara Mencegah Kanker Secara Alami

Tak hanya wanita, pria juga bisa melakukan vaksinasi HPV untuk mencegah infeksi virus tersebut.

Baik wanita maupun pria yang berusia 9-26 tahun sudah dianjurkan untuk memperoleh vaksin HPV.

Artinya, mencegah kanker serviks sudah bisa dilakukan sejak usia dini.

dr. Andy menuturkan setiap wanita berisiko terinfeksi HPV penyebab kanker serviks sepanjang masa hidupnya, tanpa memandang usia dan bagaimana gaya hidupnya.

“Menunda vaksinasi berarti menempatkan diri berisiko terkena infeksi HPV 16 dan HPV 18 dan menunda kesempatan perlindungan yang dapat diberikan oleh vaksin tersebut,” terang dia.

7. Hindari merokok

Ketika seseorang merokok, mereka dan orang-orang di sekitarnya terpapar banyak bahan kimia penyebab kanker yang mempengaruhi organ selain paru-paru.

Zat berbahaya ini diserap melalui paru-paru dan dibawa dalam aliran darah ke seluruh tubuh.

Sementara, wanita yang merokok dilaporkan dua kali lebih mungkin terkena kanker mulut rahim dibandingkan yang tidak.

Baca juga: 5 Bahaya Nikotin dalam Rokok Elektrik

Produk sampingan tembakau telah ditemukan di lendir serviks wanita yang merokok.

Zat ini dipercaya dapat merusak DNA sel leher rahim dan dapat berkontribusi pada perkembangan kanker serviks.

Merokok juga membuat sistem kekebalan tubuh kurang efektif dalam memerangi infeksi HPV.

8. Selalu melakukan seks yang aman

Penularan virus HPV ini bisa ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman, misalnya berganti-ganti pasangan dan tidak menggunaan kondom.

Perlu diingat juga, virus HPV tidak hanya dapat ditularkan melalui penetrasi.

Virus ini juga bisa menyebar melalui berbagai kontak seksual lain, seperti kulit di area genital yang saling bersentuhan, oral seks, anakl seks, termasuk penggunaan alat bantu atau sex toys.

Baca juga: Bolehkah Berhubungan Badan Saat Hamil Muda?

9. Jaga kebersihan vagina

Selain melakukan hubungan seks yang aman, menjaga kebersihan vagina juga penting sebagai bagian dari cara mencegah kanker serviks.

Langkah ini penting dilakukan terutama saat sedang menstruasi dan keputihan.

“Kebanyakan kanker serviks yang terdiagnosis pada stadium lanjut dapat mengakibatkan kerugian bagi organ tubuh di sekitarnya dan dapat menyebabkan kematian,” jelas dr. Andy .

 


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X