Kompas.com - 07/11/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi EmiliaUIlustrasi

KOMPAS.com - Preeklamsia adalah kelainan kehamilan yang bisa membahayakan ibu hamil sekaligus janin dalam kandungannya.

Komplikasi kehamilan ini biasanya muncul setelah usia kandungan menginjak 20 minggu.

Kendati tidak terlalu umum, preeklamsia bisa dialami sekitar lima sampai delapan persen kehamilan.

Preeklamsia tidak bisa diobati. Satu-satunya jalan mengatasi gangguan kehamilan ini adalah dengan melahirkan bayi.

Semakin berat kondisi preeklamsia, penanganannya semakin sulit dan risiko bagi ibu hamil maupun bayi.

Baca juga: Penyebab dan Tanda Preeklamsia

Penyebab preeklamsia

Melansir NHS, penyebab preeklamsia diperkirakan karena plasenta bermasalah. Plasenta adalah organ yang memberikan pasokan makanan dan napas ke janin.

Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko wanita mengalami preeklamsia, di antaranya:

  • Punya riwayat diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit ginjal sebelum hamil
  • Penderita lupus atau sindrom antiphospholipid
  • Ibu atau saudara perempuannya mengalami preeklamsia
  • Hamil saat usia di atas 40 tahun
  • Jarak kehamilan dengan anak sebelumnya lebih dari 10 tahun
  • Hamil bayi kembar
  • Kelebihan berat badan

Peluang ibu hamil mengalami preeklamsia jadi lebih tinggi apabila memiliki lebih dari dua faktor risiko di atas.

Baca juga: Fakta Seputar Plasenta Previa, Biang Pendarahan pada Ibu Hamil

Gejala preeklamsia

Melansir Verywell Family, gejala preeklamsia paling umum ditandai dengan tekanan darah tinggi pada ibu hamil yang biasanya memiliki tekanan darah normal.

Selain itu, tanda preeklamsia umum lainnya yakni protein urine ibu hamil tinggi.

Ciri-ciri preeklamsia lainnya yakni bagian tubuh membengkak, berat badan naik tiba-tiba, sakit kepala, dan gangguan penglihatan.

Preeklamsia digolongkan berdasarkan tingkat keparahannya, yakni preeklamsia ringan dan preeklamsia berat.

Baca juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Preeklamsia ringan

Ilustrasi warna urineKompas.com Ilustrasi warna urine
Ibu hamil didiagnosis preeklamsia ringan apabila:

  • Hasil sampel tes urine dalam sampel 24 jam menunjukkan terdapat 0,3 gram protein, atau hasil pengukuran protein 1+ persisten pada dipstick urine
  • Tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau diastolik di atas 90 mmHg
  • Usia kehamilan di atas 20 minggu

Preeklamsia ringan memengaruhi sekitar 6 persen kehamilan.

Baca juga: Tanda Bahaya pada Kehamilan sesuai Usia Kandungan

Preeklamsia berat

Beberapa ciri-ciri preeklamsia berat pada ibu hamil di antaranya:

  • Hasil sampel tes urine dalam sampel 24 jam menunjukkan ada lebih dari 5 gram protein dalam urine
  • Muncul gangguan pada sistem saraf pusat seperti sakit kepala, pandangan kabur, gangguan suasana hati
  • Janin tidak tumbuh secara optimal
  • Muncul tanda penyakit hati seperti mual, muntah, dan sakit perut
  • Terjadi gangguan pernapasan seperti pembengkakan paru-paru dan kulit kebiruan
  • Stroke
  • Jumlah trombosit rendah
  • Tekanan darah sangat tingggi, sistolik di atas 160 mmHg dan diastolik di atas 110 mmHg
  • Urine sangat sedikit, kurang dari 500 mililiter dalam 24 jam

Preeklamsia berat cukup jarang terjadi. Hanya sekitar 1-2 persen kehamilan yang mengalami preeklamsia berat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.