Kompas.com - 11/05/2021, 14:02 WIB
Ilustrasi jantung yodiyimIlustrasi jantung

KOMPAS.com – Selama ini Anda mungkin sudah tidak asing lagi mendengar kata hipertensi ketika berbicara masalah tekanan darah tinggi.

Tapi bagaimana dengan hipertensi pulmonal? Tahukah Anda mengenai hal tersebut?

Apa itu hipertensi pulmonal? Bedakah dengan hipertensi pada umumnya yang sering kita bahas atau dengar?

Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal pada Orang Dewasa?

Dilansir dari American Heart Association, hipertensi pulmonal adalah tekanan darah tinggi dalam arteri pulmonalis.

Arteri pulmonalis adalah pembuluh nadi yang membawa darah dari bilik jantung kanan bawah ke paru-paru.

Arteri pulmonalis sama seperti semua pembuluh nadi, bertugas memompa darah menjauhi jantung.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Apa Itu Hipertensi Pulmonal?
Hipertensi pulmonal adalah tekanan darah tinggi dalam arteri pulmonalis yang patut diwaspadai karena bisa menyebabkan gagal jantung hingga kematian.
Bagikan artikel ini melalui

Tapi, berbeda dengan pembuluh nadi lain yang membawa darah dengan konsentrasi oksigen yang tinggi, arteri pulmonalis membawa darah yang sudah terdeoksigenasi.

Tidak seperti tekanan darah sisemik yang mewakili kekuatan darah yang bergerak melalui pembuluh darah di seluruh tubuh, tekanan darah pulmonal mencerminkan tekanan yang diberikan jantung untuk memompa darah dari jantung melalui arteri paru.

Dengan kata lain, tekanan darah pulmonal berfokus pada tekanan aliran darah di paru-paru Anda.

Baca juga: Berapa Tekanan Darah Normal pada Anak-anak dan Remaja?

Bagaimana darah mengalir melalui jantung dan paru-paru?

Setelah mendapatkan darah yang mengandung karbon dioksidan dari sisa metabolisme tubuh melalui pembuluh vena besar (vena cava), serambi (atrium) kanan jantung akan meneruskan darah ini ke bilik (ventrikel) kanan jantung.

Setelah menerima darah yang kekurangan oksigen ini, bilik kanan jantung akan memompanya ke arteri pulmonalis .

Darah kemudian mengalir ke paru-paru untuk mendapatkan oksigen dan ke serambi kiri jantung. Dari sana, darah kaya oksigen bergerak ke bilik kiri jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh melalui aorta.

Tekanan darah pulmonal biasanya jauh lebih rendah daripada tekanan darah sistemik.

Tekanan arteri pulmonalis normal adalah 8-20 mmHg saat istirahat.

Jika tekanan di arteri pulmonalis lebih besar dari 25 mmHg saat istirahat atau 30 mmHg selama aktivitas fisik, itu sangat tinggi dan dapat disebut hipertensi pulmonal.

Baca juga: 5 Penyebab Hipertensi Pulmonal yang Perlu Diwaspadai

Efek jangka panjang dari hipertensi pulmonal

Mirip dengan bagaimana tekanan darah tinggi sistemik dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mengirimkan darah ke tubuh, hipertensi pulmonal dapat terjadi ketika arteri di paru-paru menyempit dan menebal, sehingga memperlambat aliran darah melalui arteri pulmonalis ke paru-paru.

Akibatnya, tekanan di arteri Anda meningkat saat jantung Anda bekerja lebih keras untuk mencoba memaksa darah masuk.

Melansir Medical News Today, gagal jantung bisa terjadi ketika jantung menjadi terlalu lemah untuk memompa cukup darah ke paru-paru.

Gagal jantung merupakan penyebab utama kematian bagi penderita hipertensi pulmonal.

Komplikasi hipertensi pulmonal lain termasuk darah masuk ke paru-paru dan batuk darah (hemoptisis). Kedua komplikasi ini juga bisa berakibat fatal.

Pembekuan darah dan detak jantung tidak teratur (aritmia) adalah kemungkinan komplikasi lain dari hipertensi pumonal yang patut diantisipasi.

Jika mencurigai menderita hipertensi pulmonal, seseorang harus segera mencari pertolongan medis.

Menerima bantuan medis segera dapat mengurangi risiko dan tingkat keparahan komplikasi.

Baca juga: 10 Bahaya Darah Tinggi yang Perlu Diwaspadai

Gejala hipertensi pulmonal

Gejala awal hipertensi pulmonal yang bisa terjadi dan patut diwaspadai, antara lain yakni:

  • Sesak napas saat melakukan aktivitas rutin
  • Kelelahan
  • Nyeri dada
  • Detak jantung berdebar kencang
  • Nyeri di perut bagian kanan atas
  • Nafsu makan menurun

Gejala hipertensi pulmonal selanjutnya bisa meliputi:

  • Merasa pusing, terutama saat melakukan aktivitas fisik
  • Pingsan
  • Bengkak di pergelangan kaki atau tungkai
  • Bibir atau kulit kebiruan

Baca juga: 10 Minuman untuk Menurunkan Darah Tinggi

Diagnosis hipertensi pulmonal

Hipertensi pulmonal dapat berkembang secata perlahan, tanpa tanda dan gejala awal.

Gejala yang muncul dapat dikaitkan dengan asma atau kondisi paru-paru atau jantung lainnya.

Untuk mendiagnosis hipertensi paru, dokter mungkin akan bertanya tentang gejala dan faktor risiko Anda, termasuk kondisi medis lainnya dan riwayat keluarga.

Memiliki anggota keluarga dengan hipertensi pulmonal meningkatkan risiko terkena penyakit ini.

Selain itu, dokter mungkin akan merekomendasikan tes lebih lanjut untuk mendiagnosis hipertensi paru dan menemukan penyebab dan tingkat keparahannya.

Tes diagnostik umum termasuk ekokardiograf, rontgen dada, elektrokardiogram (EKG) dan kateterisasi jantung kanan.

Menemukan penyebab yang mendasari mungkin melibatkan CT-scan dada, MRI dada, tes fungsi paru-paru, polisomnogram (PSG), pemindaian ventilasi atau perfusi paru dan tes darah.

Setelah Anda didiagnosis hipertensi pulmonal, tes olahraga dapat membantu dokter menentukan tingkat keparahannya.

Tes ini diperlukan untuk mengukur seberapa baik jantung dan paru-paru Anda bekerja saat Anda menggunakan treadmill atau sepeda statis, sehingga dokter dapat menilai tingkat aktivitas Anda.

Tes olahraga mungkin akan terus dilakukan selama masa perawatan untuk memantau kemajuan Anda.

Baca juga: 15 Makanan Penurun Darah Tinggi untuk Atasi Hipertensi

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lesi Kulit

Lesi Kulit

Penyakit
Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Health
Badan Lemas

Badan Lemas

Penyakit
Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Health
Pinggiran Lidah Bergelombang

Pinggiran Lidah Bergelombang

Penyakit
3 Cara Mengobati Kencing Batu

3 Cara Mengobati Kencing Batu

Health
Infeksi Parasit

Infeksi Parasit

Penyakit
Lidah Geografik

Lidah Geografik

Penyakit
Bibir Sobek

Bibir Sobek

Penyakit
Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Health
Kaki Panjang Sebelah

Kaki Panjang Sebelah

Penyakit
Kisah M. Habib Shaleh, 'Lahir Kembali' setelah Koma Cedera Olahraga

Kisah M. Habib Shaleh, "Lahir Kembali" setelah Koma Cedera Olahraga

Health
Gangguan Elektrolit

Gangguan Elektrolit

Penyakit
4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

Health
Leher Kaku

Leher Kaku

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.