Kompas.com - 16/06/2021, 12:04 WIB
dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur P2PML Kementerian Kesehatan dalam seminar bertajuk Stigma TBC dan Hambatan Sosial Lainnya yang diselenggarakan secara daring oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Perhimpunan Organisasi pPasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia dengan dukungan STOP TB Partnership Global pada Senin (14/6). dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur P2PML Kementerian Kesehatan dalam seminar bertajuk Stigma TBC dan Hambatan Sosial Lainnya yang diselenggarakan secara daring oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Perhimpunan Organisasi pPasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia dengan dukungan STOP TB Partnership Global pada Senin (14/6).

KOMPAS.com – Stigma negatif masih menjadi salah satu penyebab keengganan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan tuberkulosis (TBC). Hal ini pun dapat memperburuk kondisi masyarakat yang ternyata menderita TBC.

Adanya stigma negatif, baik secara internal maupun eksternal juga menjadi penghambat pemenuhan hak pasien TBC dan penyintas TBC untuk mengakses layanan kesehatan.

Persoalan ini terungkap dalam seminar bertajuk Stigma TBC dan Hambatan Sosial Lainnya yang diselenggarakan secara daring oleh Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Perhimpunan Organisasi Pasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia dengan dukungan STOP TB Partnership Global pada Senin (14/6).

Baca juga: Jangan Lupakan TB di Tengah Pandemi

Stigma negatif menjadi tantangan bagi program TBC yaitu penemuan kasus yang belum mencapai 100 persen, bahkan menurun hampir setengahnya pada 2020 menjadi hanya 41 persen.

dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur P2PML Kementerian Kesehatan RI, mengatakan dengan tegas bahwa sudah terdapat kerjasama antara Kemenkes dengan Kemenakertrans agar tidak terjadi stigma TBC di tempat kerja.

Dia berharap selama masa intensif, orang dengan TBC di tempat kerja dapat diberikan cuti khusus untuk menjalani pengobatan dan tidak dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan dalih takut akan penularan penyakit.

60% keuntungan dari artikel Health disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

Bagikan artikel-artikel Health yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Lawan Stigma untuk Dukung Penanggulangan TBC
Stigma negatif dan diskriminasi kepada pasien atau penyintas TBC harus dihilangkan untuk mendukung upaya penanggulangan penyakit menular ini.
Bagikan artikel ini melalui

“Kurangnya informasi dan edukasi sangat berpengaruh terhadap hak-hak yang diterima pasien, khususnya di tempat kerja dan pada umumnya di tengah masyarakat,” ungkap Nadia saat hadir dalam seminar.

Dia menerangkan pemerintah memiliki enam strategi pembangunan kesehatan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 sebagai upaya mengeliminasi TBC pada 2030.

Baca juga: 5 Gejala TBC yang Perlu Diwaspadai

Enam strategi tersebut, yakni:

  1. Penguatan komitmen dan kepemimpinan baik pada pemerintah pusat dan daerah
  2. Peningkatan akses layanan TBC yang bermutu dan berpihak pada pasien
  3. Optimalisasi promosi dan pencegahan
  4. Memanfaatkan hasil teknologi
  5. Peningkatan peran komunitas, mitra, dan multisektor
  6. Peningkatan tata kelola program dalam kaitannya peningkatan sistem kesehatan

“Perlu peran keluarga, komunitas, dan lintas sektor untuk dapat mendukung dan menggerakan isu strategis penanggulangan TBC,” jelas Nadia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X