Kompas.com - 16/06/2021, 18:00 WIB

KOMPAS.com - Para ahli mengatakan varian Delta COVID-19 menimbulkan ancaman karena tingkat penularan yang lebih tinggi daripada varian lain.

Selain itu, biasanya varian ini akan menyebabkan gejala tertentu yang dapat menyebabkan seseorang lebih lama menjalani rawat inap di rumah sakit.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian Delta, juga dikenal sebagai B.1.617.2, pertama kali terdeteksi di India tetapi sejak itu muncul di lebih dari 70 negara.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Pemkab Wonogiri Siapkan Tempat Isolasi di Desa

Merangkum dari Healthline, varian ini tidak hanya menyebar lebih mudah daripada strain sebelumnya, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Beberapa peneliti telah mengatakan bahwa vaksin sudah terbukti dapat melawan varian ini.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi orang yang tidak divaksinasi dan mereka yang memiliki respons kekebalan yang lebih lemah terhadap virus.

Tingkat penularan COVID-19 varian Delta?

Amerika Serikat dan Inggris telah sepenuhnya memvaksinasi sekitar 43 persen dari populasi mereka.

Namun, karena varian Delta lebih sering menginfeksi warga di Inggris Raya dalam beberapa pekan terakhir, negara tersebut mengalami lonjakan kasus COVID-19 .

Lonjakan serupa dalam kasus terlihat di India ketika varian Delta menyebar luas.

Para ahli mengatakan ini karena varian ini lebih mudah menular.

Baca juga: Jokowi Targetkan Vaksinasi Covid-19 Capai 1 Juta Suntikan Per Hari Mulai Awal Juli

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan akhir pekan lalu bahwa varian Delta sekitar 40 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha.

Gejala COVID-19 varian Delta

Mengutip dari New York Times, dokter di China menemukan bahwa ketika varian Delta menyebar ke seluruh negeri, orang-orang memiliki gejala yang berbeda dan lebih parah daripada yang dilaporkan sebelumnya.

Ketika seseorang terinfeksi virus ini, biasanya ia akan mengalami demam.

Namun, tingkat virus dalam tubuh lebih tinggi dari varian lainnya.

Hal ini menyebabkan banyak orang mengalami sakit parah dalam 3 atau 4 hari sejak terinfeksi.

Di Inggris Raya, satu penelitian menemukan bahwa gejala yang paling banyak dilaporkan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek.

Baca juga: Lonjakan Kasus Covid-19 di Tangsel, Sekolah Tatap Muka Terancam Batal Digelar

Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menuturkan bahwa gejala varian ini juga masih mirip dengan gejala COVID-19 secara umum, yakni batuk, sesak napas, sakit kepala, kelelahan, atau kehilangan indera perasa atau penciuman.

Selain itu, sebagian kasus juga menunjukkan bahwa orang yang terpapar infeksi ini tidak memiliki gejala apa pun.

Namun, ia sangat berpotensi menularkannya kepada orang lain yang lebih rentan.

Seberapa parah penyakit yang disebabkan oleh varian Delta?

Menurut Public Health England (PHE), bukti awal menunjukkan varian Delta dapat meningkatkan risiko rawat inap dibandingkan dengan varian Alpha.

Satu analisis oleh PHE terhadap lebih dari 38.000 kasus COVID-19 di Inggris menemukan bahwa orang dengan varian Delta 2,61 kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit daripada mereka yang memiliki varian Alpha.

PHE juga menemukan bahwa di beberapa daerah dengan kasus infeksi varian Delta tinggi, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya pun mengalami kenaikan.

Bisakah vaksin melawan virus COVID-19 varian Delta?

Ada bukti lain bahwa vaksin COVID-19 bekerja melawan varian Delta.

Sebuah studi yang diterbitkan pada 10 Juni 2021 lalu berjudul “BNT162b2-elicited neutralization of B.1.617 and other SARS-CoV-2 variants” menemukan bahwa vaksin efektif melawan virus varian ini.

Dua puluh orang yang telah menerima dosis vaksin Pfizer-BioNTech memiliki antibodi yang cukup dalam darah mereka untuk menetralkan beberapa varian virus, termasuk Delta.

Hal ini menunjukkan bahwa vaksin akan memberikan perlindungan yang memadai terhadap varian Delta.

Baca juga: Vaksinasi Ulang Memungkinkan jika Masih Terpapar Covid-19? Ini Penjelasan Kemenkes

Penelitian lain menekankan pentingnya vaksinasi penuh, terutama ketika varian Delta menyebar luas di masyarakat.

Melansir studi berjudul “Neutralising antibody activity against SARS-CoV-2 VOCs B.1.617.2 and B.1.351 by BNT162b2 vaccination", vaksin efektif memberikan respons memadai untuk melawan varian Delta.

Melihat tingkat efektivitas varian Delta, dapat dilihat bahwa orang yang tidak divaksinasi memiliki risiko lebih tinggi dalam merespons virus ini.

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.