Kompas.com - 28/09/2021, 08:00 WIB
Ilustrasi anak sekolah yanukitIlustrasi anak sekolah

KOMPAS.com - Meski pandem Covid-19 belum berakhir, pemerintah mulai memperbolehkan kegiatan sekolah tatap muka.

Hal ini tentu memberikan problematika tersendiri. Di sisi lain, kegiatan sekolah tatap muka ini bisa menjadi solusi bagi sebagian anak yang sudah mulai jenuh dengan sistem belajar di rumah.

Namun, hal ini juga bisa menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengingat Covid-19 masih ada dan bisa saja muncul cluster penularan baru dari kegiatan sekolah tatap muka ini.

Baca juga: 3 Hal Ini Bisa Menjadi Penyebab Rosacea

Lalu apa kata ahli mengenai hal ini?

Melihat situasi dan penyebaran Covid-19 saat ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia belum merekomendasikan diselenggaranya sekolah tatap muka.

Sekolah tatap muka baru bisa dimulai jika transmisi lokal terkendali, yang ditandai dengan tiat positive rate kurang dari lima persen dan tingkat kematian menurun.

Jika sekolah tatap muka tetap harus dimulai, maka pihak sekolah harus mempersiapkan sistem pembelajaran blended learning, di mana anak dan orangtua diberi kebebasan memilih untuk mengikuti pembelajaran secara daring atau luring.

Karena berakhirnya Pandemi Covid-19 masih belum bisa diprediksi, pihak sekolah juga dapat memanfaatkan pembelajaran di ruang terbuka seperti taman, lapangan, atau alam terbuka.

Panduan sekolah tatap muka

Agar tidak tercipta cluster baru penularan Covid-19 dari sekolah tatap muka ini, IDAI menyarankan orangtua dan pihak penyelenggara sekolah melakukan hal berikut:
1. Semua guru, pihak sekolah, pengasuh, atau orangtua murid harus sudah divaksin.

2. Pembelajaran dilakukan dengan membuat kelompok kecil agar mempermudah tracing jika terjadi penularan.
3. Jam masuk dan pulang sekolah harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari penumpukan siswa
4. Saat pembelajaran, semua jendela di dalam kelas harus dibuka. Jika memunkinkan lakukan pembelajaran di luar ruangan kelas.
5. Pihak sekolah harus menyediakan fasilitas cuci tangan di lokasi yang strategis.

6. Jika ada anak atau guru yang memenuhi kriteria suspek, harus bersedia dilakukan swab.

Baca juga: Keratitis

Selain hal di atas, anak yang akan mengikuti pembelajaran tatap muka juga harus diajari cara memakai masker dengan benar.

  • Pihak sekolah juga harus menyediakan tempat pembuangan masker. Anak juga harus dilatih untuk melakukan hal berikut:
  • tidak memegang mata, mulut, hidung, tanpa mencuci tangan terlebih dahulu
  • tidak bertukar alat minum atau peralatan pribadi lainnya
  • menerapkan etika batuk dan bersin
  • mengenali tanda Covid-19 secara mandiri dan melaporkan jika ada orang serumah yang terpapar Covid-19
  • tidak melakukan stigmatisasi terhadap teman yang terpapar Covid-19.

Itulah rekomendasi IDAI mengenai sekolah tatap muka di masa pandemi ini. Meski vaksin sudah ditemukan, kita tetap harus menerapkan protokol kesehatan hingga pandemi ini benar-benar dinyatakan berakhir.

Sebab, melakukan vaksinasi bukan berarti kita kebal terhadap Covid-19. Masih ada kemungkinan kita tertular dan menularkannya ke orang lain.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.