Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Kamu Merasa Depresi? Cek Tanda-tanda Ini...

Kompas.com - 15/03/2022, 16:00 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

Sumber Healthline

KOMPAS.com - Depresi adalah salah satu masalah kejiwaan yang mungkin tengah kamu alami, tapi tidak kamu sadari.

Mengutip buku "Panduan Lengkap Kesehatan Wanita" (2012) oleh dr. Wening Sari, MKes, dr Lili Indrawati, MKes, Drs Basuki Dwi Harjanto MM, mengatakan bahwa depresi adalah keadaan rasa duka yang berkepanjangan.

Depresi bukan rasa sedih biasa, tidak mudah dikendalikan oleh yang bersangkutan dan tidak mudah dihibur oleh orang lain.

Baca juga: Kenali Gejala Burnout dan Bedanya dengan Depresi

Berikut tanda-tanda depresi yang umum terjadi:

  1. Merasa sedih, tertekan, atau merasa kosong terus-menerus
  2. Merasa putus asa, karena suasana hatinya mempengaruhi cara pandang tentang kehidupan secara umum.
  3. Merasa bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
  4. Merasa gelisah atau mudah marah
  5. Kehilangan minat pada aktivitas atau hobi yang biasanya menarik, termasuk hubungan seks dengan pasangan
  6. Merasa lelah setiap saat
  7. Sulit berkonsentrasi, mengingat secara detail, atau kesulitan membuat keputusan
  8. Mengalami masalah tidur: tidak dapat tidur atau tetap terjaga (insomnia), terbangun tengah malam, atau mengantuk sepanjang waktu
  9. Perubahan nafsu makan: nafsu makan bisa bertambah atau hilang
  10. Berpikir untuk bunuh diri atau melakukan usaha bunuh diri
  11. Mengalami masalah pencernaan yang tak kunjung sembuh
  12. Merasa nyeri terus-menerus, nyeri kepala, atau kram.

Namun tidak semua orang yang didiagnosis depresi, mengalami semua tanda-tanda tersebut.

Tanda depresi bisa saja berbeda juga antara wanita, pria, orang dewasa, dan anak-anak.

Apa yang menyebabkan seseorang alami depresi?

Tidak ada penyebab tunggal soal depresi.

Depresi terjadi karena kombinasi dari berbagai hal, meliputi:

  • Genetik
  • Struktur dan biokimiawi otak
  • Lingkungan
  • Faktor psikologis.

Baca juga: Terlihat Sama, Ini Beda Depresi dan PTSD

Faktor risiko

Mengutip Healthline, depresi dapat terjadi pada pria dan wanita dari segala usia.

Selain itu, depresi mempengaruhi orang-orang di semua kelompok etnis dan latar belakang sosial ekonomi.

Ada pun beberapa faktor risiko depresi, meski memiliki satu atau lebih faktor risiko tersebut, tidak selalu Anda akan menjadi depresi.

Faktor risiko depresi meliputi berikut:

  1. Trauma masa kecil atau remaja
  2. Ketidakmampuan untuk mengatasi peristiwa kehidupan yang menghancurkan, seperti kematian anak atau pasangan atau situasi apa pun yang menyebabkan tingkat rasa sakit yang ekstrem
  3. Rendah diri
  4. Riwayat keluarga penyakit mental, termasuk gangguan bipolar atau depresi
  5. Riwayat penyalahgunaan zat, termasuk obat-obatan dan alkohol
  6. Kesulitan menyesuaikan diri dengan kondisi medis, seperti kanker, stroke, sakit kronis, atau penyakit jantung
  7. Kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh karena cedera bencana, seperti kehilangan anggota badan, atau kelumpuhan
  8. Riwayat gangguan kesehatan mental sebelumnya, termasuk anoreksia, bulimia, gangguan stres pascatrauma (PTSD), atau gangguan kecemasan
  9. Kurangnya sistem pendukung, seperti teman, keluarga, atau rekan kerja.

Baca juga: 5 Cara Mengatasi Episode Depresi pada Penderita Bipolar

Depresi juga bisa terjadi karena efek samping dari beberapa obat, yaitu:

  • Beta-blocker
  • Kortikosteroid
  • Obat hormonal
  • Statin, yang merupakan obat yang digunakan untuk mengobati kolesterol tinggi

Jika Anda khawatir obat yang Anda minum memengaruhi suasana hati, diskusikan hal itu dengan dokter.

Mengutip buku "Panduan Lengkap Kesehatan Wanita" (2012) oleh dr. Wening Sari, MKes, dr Lili Indrawati, MKes, Drs Basuki Dwi Harjanto MM, mengatakan terdapat fakta bahwa kalangan wanita lebih mudah mengalami depresi dibandingkan pria.

Pertama, hal itu karena faktor hormon.

Baca juga: Klasemen Grup C Piala Asia U17 2025 Usai Skor Indonesia Vs Korsel

Wanita memiliki hormon yang membuatnya rentan depresi, terutama ketika menstruasi, setelah melahirkan, dan selama menopause.

Kedua, karena pola asuh.

Pola asuh dini dari lingkungan terdekat sering kali menjadikan wanita memiliki pemikiran bahwa ia adalah makhluk tak berdaya.

Namun, banyak wanita dengan depresi tidak pernah melakukan terapi untuk mengobati depresinya.

Meski depresi yang dialami sudah parah, dengan terapi sebenarnya dapat memulihkan kondisi itu.

Baca juga: Apa Perbedaan Gejala Depresi dan Kesedihan Biasa?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau