Dikdik Kodarusman
Dokter RSUD Majalengka

Dokter, peminat kajian autofagi. Saat ini bekerja di RSUD Majalengka, Jawa Barat

Pengobatan Dini Melalui Proses Autofagi

Kompas.com - 02/08/2022, 11:33 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SAAT saya menyampaikan protokol pengobatan dini infeksi secara autofagi di media sosial, timbul berbagai tanggapan. Dari masyarakat awam umumnya ucapan terima kasih. Dari sejawat banyak pertanyaan bernada skeptis, bahkan sinis. Untungnya beberapa sejawat senior, termasuk guru saya, bisa memahami dan mendukung.

Kebanyakan mengatakan prokol saya asal-asalan karena berbeda dengan panduan dari kemenkes. Beberapa mempertanyakan sumber lembaga profesi yang mengeluarkan protokol tersebut, bukti jurnal dari panduan protokol tersebut.

Anehnya, tidak pernah ada yang bertanya dasar teori protokol tersebut. Dunia kedokteran Indonesia memang tengah sakit. Para dokter melayani pasen hanya berdasarkan protokol tetap. Tidak berdasarkan keilmuan yang telah dipelajari semasa kuliah.

Makanya, sikap terhadap pasien juga terkesan kurang bertanggung jawab. Mau sembuh mau tidak, urusan nanti. Yang penting protokol tetap sudah dijalankan. Padahal para profesional tersebut terdidik secara teoritis. Paham hubungan dari setiap tindakan dengan kondisi yang dihadapi.

Tak heran jika timbul pertanyaan dari masyarakat awam, kebanyakan tidak bisa menjawab. Pokoknya masyarakat harus mengikuti karena ini sudah merupakan instruksi dari yang berwenang.

Tentu saja banyak kalangan masyarakat yang tidak puas. Banyak sekali di antara mereka yang curiga dengan setiap protokol yang harus dijalani. Apalagi sekarang zaman digital. Masyarakat sangat mudah untuk memperoleh informasi dari pihak lain.

Lucunya lagi, asal informasi itu berbeda dengan pihak berwenang masyarakat langsung percaya. Padahal informasi ini pun tidak didukung penjelasan teori yang memadai. Jika tidak, menggunakan teori sendiri yang berbeda dengan teori yang telah mapan.

Contohnya, saat disebut kayu bajakah bersifat anti kanker masyarakat langsung percaya. Padahal informasi tersebut hanya bersifat testimoni sepihak. Sedangkan penelitian yang bersifat teoritis tidak pernah dilakukan. Cuma menguntungkan pedagang kayu bajakah saja.

Sayangnya, itu juga melanda kalangan profesional kesehatan. Mereka dengan bangga menunjukkan data-data yang dirilis pabrik farmasi. Sayangnya, tidak berusaha untuk memahami secara teoritis data-data tersebut. Akhirnya  jadilah mereka sales farmasi tanpa bayaran.

Sebaliknya jika diajak untuk memahami secara fundamental teori, malah enggan. Karena dianggap masih bersifat spekulatif. Atau enggan berbeda pendapat dengan protap yang ada. Takut kena tuntutan malapraktek?

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.