Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noerolandra Dwi S
Surveior FKTP Kemenkes

Menyelesaikan pascasarjana FKM Unair program studi magister manajemen pelayanan kesehatan. Pernah menjadi ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban bidang pengendalian dan pencegahan penyakit. Sekarang menjadi dosen di Stikes NU di Tuban, dan menjalani peran sebagai surveior FKTP Kemenkes

Penyakit TBC Masih Jadi Ancaman

Kompas.com - 02/05/2023, 17:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PENYAKIT TBC (tuberkulosis) masih menjadi ancaman nyata penduduk Indonesia. Keberhasilan penemuan kasus (insiden) dan pengobatan selama ini ternyata tidak menurunkan penularan TBC di masyarakat.

Tidak hanya usia produktif, transmisi TBC juga mengancam anak-anak. Kondisi itu sangat memprihatinkan.

Penyakit TBC menyerang penduduk miskin dengan gizi yang buruk dan kondisi lingkungan yang kumuh. Penduduk yang secara sosial ekonomi tertekan menjadi semakin tidak berdaya karena TBC. Mereka kehilangan akses untuk produktif dan menjadi terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan transmisi TBC di masyarakat yang masih tinggi tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Indonesia sebagai high burden countries berdasarkan tiga indikator (triple burden) yaitu insiden TBC, TBC-HIV, dan MDR-TBC (multy drug resisten).

Baca juga: Kemenkes Targetkan Deteksi TBC Capai 90 Persen pada 2024

Persoalan itu memperberat Indonesia dalam mencapai target bebas TBC tahun 2030. Memang, pemberantasan TBC di Indonesia mengalami tantangan tidak ringan. Kemenkes menyebut setiap tahun tidak kurang 850 ribu orang tertular dan 13 orang meninggal karena TBC setiap jam.

Penurunan kasus dari tahun ke tahun Indonesia tergolong rendah dibanding negara lain yang telah mencapai 5 persen. Kita menghadapi masalah keterlambatan diagnosa, keteraturan berobat, dan akses pelayanan yang terkendala.

Tak Kenal Batas

Penyakit TBC sangat mengkhawatirkan karena menularnya gampang, penderita di usia produktif, jumlah insiden cukup besar, tak ada batas geografi, dan tingkat kematian tinggi. Dampak penyakit TBC tidak hanya kesehatan, tapi juga kondisi psikologis dan sosial-ekonomi penderita dan keluarganya.

Keluarga dan anak penderita TBC terancam terinfeksi dan menjadi tidak produktif. WHO pernah merilis 1,7 miliar penduduk dunia telah terinfeksi TBC. Namun sebagian besar bakteri tertidur dan sekitar 10 juta penderita TBC aktif dan menjadi sumber penularan tanpa pengobatan.

Baca juga: WHO: Jumlah Kematian akibat TBC Naik Lagi di Eropa, Kali Pertama dalam 20 Tahun

Dapat dibayangkan produktivitas dan hari kerja yang hilang akibat penyakit kronis TBC. Di Indonesia data terbaru Kemenkes menunjukkan jumlah kasus baru 845 ribu penderita, rata-rata  319 orang per 100 ribu penduduk.

Jumlah kasus TBC anak 52.929 kasus, penderita HIV dengan TBC 7.729 kasus, TBC resisten obat 4400 kasus. Kematian akibat TBC di Indonesia mencapai 107 ribu atau rata-rata 40 orang per 100 ribu penduduk.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com