KOMPAS.com - Setiap orangtua memiliki cara masing-masing untuk mendidik anaknya. Namun, tanpa sadar kita sering menilai dan mengkritik gaya parenting orang lain yang berbeda dengan cara kita.
Contoh kritikan yang sering kita dengar misalnya, memberi ASI atau susu formula, memakai pengasuh atau diasuh sendiri, mengenalkan gadget atau tidak, dan masih banyak lagi.
Dalam hal gaya parenting, ruang lingkup penilaian tidak terbatas. Ketakutan akan dinilai dan dikomentari orang lain seringkali menjadi sumber kecemasan dan juga rasa bersalah para orangtua baru.
Menurut psikolog klinis Dr.Anne Welsh, banyak yang tidak menyadari bahwa pada intinya kita menghakimi pola asuh orang lain karena kita ingin melindungi diri dan butuh validasi.
Baca juga: 3 Tips Sukses Menerapkan Gentle Parenting, Tenang dan Positif
"Pada dasarnya, kita ingin melindungi diri dari kenyataan yang menyakitkan bahwa kita tidak memiliki kontrol sebanyak yang kita inginkan atas hasil kehidupan anak-anak kita," jelasnya.
Ini masuk akal. Kita sangat peduli dengan anak-anak kita dan ingin melakukan hal-hal yang luar biasa dalam membesarkan mereka. Pikiran bahwa kita dapat melakukan kesalahan terasa hampir tidak dapat ditahan.
Selain itu kita juga dibombardir dengan begitu banyak informasi tentang cara mengasuh anak. Di media sosial ada berbagai saran tentang cara yang tepat untuk membuat anak tidur, makan, bermain (dan seterusnya).
Kamini Wood, seorang Pelatih Potensi Manusia dan CEO di Live Joy Your Way, merasakan beratnya harus melakukan parenting dengan benar ibu di usia yang lebih muda.
"Asumsi yang tidak terucapkan adalah bahwa usia muda sama dengan ketidakmampuan, dan saya sering merasa harus membuktikan diri sebagai ibu yang cakap dan yang benar-benar cocok di dunia pengasuhan anak," katanya.
Baca juga: Anak Dibesarkan dalam Pola Asuh Tanpa Keteraturan, Ini Efek Negatifnya
Mencari validasi
Alasan lain kita menghakimi adalah untuk mendapatkan validasi.
“Banyak dari kita tumbuh dengan banyak validasi eksternal seperti nilai, gaji, dan jabatan. Kita telah dikondisikan untuk mencarinya sebagai cara untuk mengatakan ‘Saya cukup’,” kata Dr. Welsh.
Kemudian saat menjadi orangtua, tidak ada validasi eksternal yang bisa ditemukan, tidak ada penilaian kinerja, bonus tahunan, atau promosi.
Menurut Dr.Welsh, ketika kita menghakimi orang lain, kita mendapatkan dorongan dopamin karena berpikir ‘setidaknya saya tidak melakukan itu.’
Baca juga: Psikolog Jelaskan Dampak Penggunaan Gawai Berlebihan pada Anak Selama Liburan
“Rasanya menyenangkan untuk sementara, tetapi akhirnya menggerogoti kepercayaan diri dan keselarasan kita sebagai orangtua. Kita semakin terjebak dalam dinamika benar atau salah dan kehilangan fleksibilitas dan nuansa,” katanya.
Masalah mendasar dari mengkritik cara parenting orang lain adalah tidak ada satu cara yang benar untuk mengasuh anak. Sebab, setiap anak punya kebutuhan unik dan gaya parenting bisa disesuaikan dengan situasi masing-masing keluarga.
Tips menghindari berkomentar
Dr.Welsh memberikan 5 tips untuk menghadapi dan juga menghindari keinginan kita untuk berkomentar tentang cara pola asuh orang lain:
Baca juga: Australia Larang Remaja di Bawah 16 Tahun Main Media Sosial, Mungkinkah Diterapkan di Indonesia?
1. Bangun kesadaran
Sadari kapan biasanya kita menilai dan menghakimi orang lain, lalu menjauhlah dari situasi itu. Misalnya saat melihat unggahan seseorang di media sosial.
2. Cari tahu
Ketika kita takut dengan komentar orang lain, carilah informasi yang banyak. Saat ini ada banyak sumber tersedia yang bisa membantu kita mengedukasi diri, namun pilih yang terpercaya. Pahami juga mengapa komentar orang lain penting untuk kita sehingga kita jadi cemas.
3. Belajar dari kesalahan
Ingatkan diri bahwa kita semua hanya melakukan yang terbaik dengan informasi yang kita miliki saat itu jadi tak perlu terlalu menyalahkan diri sendiri.
Baca juga: Kurang Zat Besi, Kecerdasan Anak Terancam
4. Tolak mentalitas "satu ukuran untuk semua"
Ingatlah bahwa pola asuh tidak akan pernah sama, jadi tak perlu memaksakan orang lain untuk mengikuti cara kita.
5. Detoks media sosial
Jika memang media sosial membuat kita sering tak tahan untuk berkomentar, keluarlah dari media sosial atau atur feed.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.