Jumat, 22 Agustus 2014 03:00

NEWS & FEATURES / HOT TOPICS - ARTIKEL

Minim, Peran Pemda Atasi Tuberkulosis

Sabtu, 19 Maret 2011 | 09:15 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Tukang becak membaca selebaran tentang penyakit tuberkulosis (TB) yang dibagikan aktivis dari Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta saat memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia di sekitar Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/3). Mereka mengampanyekan bahaya penyakit tuberkulosis yang di Indonesia menjadi penyebab kematian sekitar 100.000 pengidap per tahun.
TERKAIT:

Jakarta, Kompas - Kontribusi pemerintah daerah masih minim dalam penanggulangan tuberkulosis, terutama dalam penganggaran. Padahal, angka kematian akibat tuberkulosis masih tinggi di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemkes) Tjandra Yoga Aditama dalam jumpa pers menjelang peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2011, Jumat (18/3) di Jakarta, mengatakan, peran daerah perlu ditingkatkan guna mempercepat penanggulangan tuberkulosis. Puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia diselenggarakan pada 24 Maret 2011 di Istana Wakil Presiden.

Dana penanggulangan tuberkulosis terbesar masih dari Global Fund, sekitar 60 persen. Kemudian pemerintah pusat sekitar 35 persen. Adapun kontribusi pemerintah daerah masih minim. ”Dari 33 provinsi, baru sekitar 20 persen provinsi mengalokasikan anggaran penanggulangan tuberkulosis,” kata Vice Chair Country Coordinating Mechanism (CCM) Indonesia Prof Sudijanto Kamso. CCM adalah mitra dalam pengusulan bantuan dari Global Fund.

Kasubdit TB Ditjen P2PL Kemkes Dyah Erti Mustikawati mengatakan, ada pembagian tugas dalam penanggulangan tuberkulosis. Kemkes menyediakan obat dan reagen. Sekitar 80 persen biaya logistik obat bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011.

Pemerintah daerah diharapkan berperan dalam operasional di provinsi, kabupaten, atau kota. Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kapasitas dan mutu pelayanan dalam penanggulangan tuberkulosis.

Global Fund berkomitmen memberikan bantuan 119 juta dollar AS untuk penanggulangan tuberkulosis tahun 2011-2015. Tahun ini, anggaran penanganan tuberkulosis Rp 130 miliar.

Kematian masih tinggi

Situasi tuberkulosis di Indonesia semakin membaik, tetapi belum memuaskan. Berdasarkan Global Tuberculosis Control WHO Report (2007), Indonesia berada di peringkat ketiga jumlah kasus tuberkulosis terbesar di dunia (528.000 kasus). Dalam laporan serupa tahun 2009, Indonesia membaik jadi peringkat kelima (429.730 kasus). Angka kematian turun dari 92 per 100.000 penduduk pada 1990 menjadi 39 per 100.000 penduduk pada 2009.

Dyah mengatakan, jumlah penduduk yang meninggal karena tuberkulosis tercatat 61.685 per tahun atau 169 orang per hari. Situasi itu memprihatinkan mengingat tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat dicegah dan diobati. ”Obat tuberkulosis tersedia dan gratis di fasilitas kesehatan pemerintah,” katanya.

Jika didiagnosis dengan tepat, diberikan obat dengan jenis dan dosis yang benar, serta diminum dengan disiplin, tuberkulosis dapat disembuhkan.

Salah satu kendala penanganan tuberkulosis adalah keteraturan dan kedisiplinan dalam meminum obat. Selain itu, kapasitas fasilitas kesehatan dalam penanganan tuberkulosis juga belum merata.

Tjandra mengatakan, strategi pemerintah dalam menanggulangi tuberkulosis antara lain meningkatkan DOTS berkualitas dengan melibatkan semua penyedia layanan kesehatan dan memperkuat penanganan TB/HIV, MDR-TB, TB anak, kebutuhan masyarakat miskin, serta kelompok populasi rentan lain.

Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat sistem kesehatan dan manajemen program pengendalian tuberkulosis. Komitmen pemerintah pusat dan daerah akan ditingkatkan. (INE)


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui