Kamis, 23 Oktober 2014 06:02
Caring by Sharing | Kompas.com

OBAT & VITAMIN - ARTIKEL

Protein Sintetis untuk Cegah Sakit Flu

Kamis, 12 Juli 2012 | 13:07 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com - Peneliti di San Diego State University menemukan cara untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengatasi gangguan flu sebelum virus ini menjadi parah dan membuat orang sakit.

Studi terbaru ini dipublikasikan di jurnal ilmiah PLoS ONE, 6 Juli lalu. Menurut para peneliti, sebuah protein sintetis, EP67, didapati mampu mengaktifkan sistem kekebalan dalam dua jam.

Joy Phillips, peneliti yang menjadi pimpinan penulis dalam studi ini menjelaskan, protein EP67 telah digunakan sebagai acuan bagi vaksin flu. Namun, berdasarkan studi yang mereka lakukan, terlihat potensi untuk mengembangkan EP67 untuk bekerja secara mandiri.

"EP67 bekerja bukannya untuk mematikan virus, melainkan terhadap fungsi sistem imun sendiri. Studi kami menunjukkan bahwa dengan 'mengenalkan' EP67 ke dalam tubuh 24 jam dari saat terpapar virus flu menyebabkan sistem imun bereaksi cepat. Dan hasilnya, tubuh kembali normal," kata Phillips.

Ia menambahkan, virus flu adalah virus yang tidak terdeteksi sampai beberapa hari hingga tubuh sudah terpapar gejala-gejalanya. Oleh sebab itu, EP67 yang mengaktifkan sistem imun amatlah potensial sebagai terapi saat seseorang yang terpapar virus flu, yang tidak dapat dihindari, tetapi berupaya mencegah penyakit tersebut sampai melemahkan tubuh.

Meski studi kali ini berfokus pada penyakit flu, ujar Phillips lagi, EP67 pun kemungkinan dapat menjadi terapi pengobatan untuk berbagai penyakit infeksi pernapasan dan penyakit infeksi lainnya. Studi ini juga mempunyai implikasi bagi dunia kedokteran hewan, karena EP67 merupakan protein yang aktif di sejumlah hewan termasuk burung. (Gloria Samantha/Science Daily)

 


Sumber :
National Geographic Indonesia
Editor :
Asep Candra

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui