Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyakit Pneumonia Apakah Menyebabkan Kematian?

Kompas.com - 12/01/2024, 12:00 WIB
Elizabeth Ayudya Ratna Rininta

Penulis

Sumber Antara,

KOMPAS.com - Penyakit pneumonia dibiarkan terlalu lama bisa menyebabkan komplikasi berupa gagal napas, infeksi pada selaput otak atau meningitis, dan bakterimia atau kondisi masuknya bakteri ke dalam darah. Namun, penyakit pneumonia apakah menyebabkan kematian

Untuk diketahui, pneumonia adalah radang paru akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Gejala pneumonia pada anak, misalnya batuk, demam, napas menjadi cepat, kesulitan menarik napas, atau tampak tarikan dinding dada saat bernapas.

Baca juga: Mencegah Pneumonia pada Anak melalui Pemberian Vaksin PCV 15

Anak yang pernapasannya terganggu akibat pneumonia bisa kekurangan oksigen atau hipoksia.

Dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), gejala hipoksia yaitu sesak napas atau kesulitan bernapas, napas cepat, muncul cekungan di dada bagian bawah saat anak bernapas, terlihat biru, napas terangguk-angguk, pada anak yang lebih kecil jadi lebih rewel, tidak bisa makan dan minum, bahkan bisa muntah, dan tidak sadarkan diri.

Lantas, apakah pneumonia menyebabkan kematian? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan berikut.

Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami

Penyakit pneumonia apakah menyebabkan kematian?

Penyakit pneumonia juga bisa menyebabkan kematian seiring terganggunya fungsi paru-paru akibat infeksi berbagai jenis bakteri, termasuk Streptococcus pneumoniae.

Anggota Komite Ahli tuberkulosis Kementerian Kesehatan Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), menjelaskan bahwa pneumonia menyebabkan kematian karena bisa membuat organ tubuh anak kekurangan oksigen.

"Menyebabkan anak tanpa sesak sehingga kalau berlanjut maka terjadi kekurangan oksigen di semua organ, sehingga menyebabkan kematian," kata Nastiti, dikutip dari Antara, Kamis (11/1/2024).

Infeksi pada paru menyebabkan terjadi akumulasi cairan di rongga atau kantong paru sehingga dengan banyaknya cairan, kantung paru terisi cairan menyebabkan terjadi gangguan fungsi penyerapan oksigen.

Baca juga: Dokter Jelaskan Gejala Pneumonia Pada Anak dan Cara Pencegahannya

Nastiti kemudian memaparkan data bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian balita tertinggi. Pada tahun 2018 terdapat lebih dari 18 ribu kasus kematian anak balita di seluruh dunia akibat pneumonia.

Selain itu, sebagian besar kematian akibat pneumonia terjadi pada anak berusia di bawah dua tahun dan nyaris 153.000 kematian terjadi pada bulan pertama kehidupan.

Penularan pneumonia dapat terjadi dengan mudah melalui droplet atau percikan ludah atau air liur dan batuk. Hal ini menimbulkan gejala awal, seperti batuk, demam, lalu gejala saluran napas lainnya seperti pilek, dan hidung tersumbat.

Baca juga: Pemutihan Pajak Kendaraan di Jabar, Dedi Mulyadi: Ada yang Nunggak 18 Tahun, Mau Kapan Bayarnya?

"Ketika sudah mengenai jaringan paru, maka akan timbul gejala-gejala seperti napas menjadi cepat, ngos-ngosan," ujar Nastiti menjelaskan.

Kemudian jika terlihat adanya tarikan dinding dada pada saat si kecil bernapas, itu merupakan gejala pneumonia yang harus membuat orangtua segera membawa anaknya ke rumah sakit.

 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bertemu PM Hongaria, Netanyahu Bersumpah Hancurkan Poros Iran
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau