Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

7 Gejala Hipertensi Pulmonal yang Perlu Diwaspadai

KOMPAS.com – Gejala hipertensi pulmonal penting dikenali untuk mendukung upaya diagnosis dini dan pengobatan sesegera mungkin jika terjadi masalah kesehatan ini.

Dilansir dari Celeveland Clinic, hipertensi pulmonal adalah gangguan paru-paru ketika arteri yang membawa darah dari jantung ke paru-paru menjadi menyempit, sehingga darah sulit mengalir.

Akibatnya, tekanan darah di arteri yang disebut sebagai arteri pulmonalis ini dapat naik jauh di atas tingkat normal.

Tekanan tinggi yang tidak normal ini dapat menekan ventrikel kanan jantung, lalu membuatnya membesar.

Sayangnya, ketika terlalu banyak bekerja dan membesar, ventrikel kanan secara bertahap bisa menjadi lebih lemah dan kehilangan kemampuannya untuk memompa cukup darah ke paru-paru.

Hal ini pun dapat menyebabkan perkembangan gagal jantung kanan.

Oleh sebab itu, hipertensi pulmonal sebaiknya tak dianggap remeh.

Berbeda dengan tekanan darah sistemik yang mewakili kekuatan darah yang bergerak melalui pembuluh darah di seluruh tubuh, tekanan darah pulmonal hanya mencerminkan tekanan yang diberikan jantung untuk memompa darah dari jantung melalui arteri paru.

Dengan kata lain, tekanan darah pulmonal berfokus pada tekanan aliran darah di paru-paru.

Hipertensi pulmonal pada dasarnya bisa terjadi pada individu dari segala usia, rasa, dan latar belakang etnis.

Tapi, penyakit paru ini dilaporkan jauh lebih sering terjadi pada orang dewasa muda dan kira-kira dua kali lebih umum pada wanita daripada pria.

Gejala hipertensi pulmonal

Melansir Mayo Clinic, tanda dan gejala hipertensi pulmonal atau hipertensi paru biasanya berkembang secara perlahan.

Penderita mungkin tidak memperhatikan gejala selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Gejala seringkali menjadi lebih buruk saat penyakit berkembang.

Tanda dan gejala hipertensi pulmonal di antaranya bisa meliputi:

  1. Sesak napas (dispnea) yang awalnya dengan aktivitas fisik dan pada akhirnya bisa terjadi meski saat istirahat
  2. Kelelahan
  3. Pusing atau pingsan (sinkop)
  4. Tekanan atau nyeri dada
  5. Pembengkakan (edema) di pergelangan kaki, kaki, dan akhirnya di perut (asites)
  6. Warna kebiruan pada bibir dan kulit (sianosis)
  7. Denyut nadi cepat atau detak jantung berdebar (palpitasi)

Edema, asites, dan sianosis dapat terjadi karena ketegangan pada jantung meningkat.

Penderita hipertensi pulmonal pada akhirnya bisa menjadi sulit untuk melakukan aktivitas apa pun saat penyakitnya memburuk.

Oleh sebab itu, siapa saja yang mencurigai memiliki gejala hipertensi pulmonal sebaiknya dapat segera berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat membantu memastikan penyebab keluhan yang terjadi dan memberikan saran pengobatan terbaik.

Cara mendiagnosis hipertensi pulmonal

Karena hipertensi pulmonal dapat disebabkan oleh banyak kondisi medis, riwayat medis lengkap, pemeriksaan fisik, dan deskripsi gejala pasien diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lain dan membuat diagnosis yang benar.

Selama pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan melakukan beberapa tindakan berikut:

Tes lain yang mungkin dipesan dokter meliputi:

https://health.kompas.com/read/2021/11/05/050300968/7-gejala-hipertensi-pulmonal-yang-perlu-diwaspadai

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+