Kala Virus Coxsackie Menyerang Anak

Kompas.com - 12/04/2011, 02:59 WIB
Editor

Indira Permanasari

Belakangan ini, para orangtua diresahkan dengan penyakit yang disebut sebagai flu singapura yang menyerang anak mereka. Penyakit yang dalam bahasa kedokteran disebut penyakit tangan, kaki, dan mulut itu memang mudah menular dengan gejala dan penampilan yang ”menakutkan”.

Salah satu penderita adalah Embun (6 bulan), warga Pamulang, Tangerang Selatan.

Sang ayah, Ilham (36), mengisahkan, putrinya demam 38 derajat celsius dan muncul bintik-bintik merah kecil di tubuhnya. Ilham segera membawa Embun ke dokter spesialis anak. Namun, saat itu dokter belum dapat memastikan penyakit yang diderita Embun dan hanya memberi obat penurun panas.

Setelah dua hari kondisi Embun tidak membaik, Ilham membawanya ke dokter lain. Saat itu dokter anak menyatakan Embun terkena flu singapura. Hal ini membuat Ilham mulai tenang.

”Saya pernah dengar tentang flu singapura, anak tetangga saya pernah kena. Kata dokter, penyakit ini mudah sembuh. Namun, gejala awal seperti demam dan bintik-bintik merah membuat kami khawatir dia terkena demam berdarah dengue,” kata Ilham.

Bukan flu

Dokter spesialis anak, konsultan penyakit infeksi dan pediatri tropik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSUPN Cipto Mangunkusumo, Alan R Tumbelaka menuturkan, ia kian sering menerima pasien dengan gejala yang disebut masyarakat sebagai flu singapura itu. Bayi dan anak berusia di bawah 10 tahun paling rentan terserang penyakit itu. Orang dewasa dapat pula terinfeksi, tetapi tidak sampai menunjukkan gejala lantaran daya tahan lebih kuat.

Penyebutan flu singapura, menurut Tumbelaka, tidak tepat. Dalam bahasa kedokteran, penyakit itu disebut penyakit tangan, kaki, dan mulut (PTKM). Tumbelaka menyatakan, penyakit itu tidak berasal dari Singapura. Mengutip buku berjudul Mengenal Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut karya dr Sutaryo SpA, penyakit tersebut dikenal sejak tahun 1957 di Toronto, Kanada. Tahun 1980-an, penyakit itu muncul di Belanda, Amerika, Australia, Swedia, Bulgaria, Hongaria, Jepang, Hongkong, China, dan Singapura. Tahun 1997-1999, Malaysia dan Taiwan terserang, diikuti dengan wabah di Singapura pada tahun 2000.

”Boleh jadi, ketika itu banyak warga Indonesia yang ke Singapura dan tertular penyakit itu sehingga disebut flu singapura,” kata Tumbelaka. Ia menambahkan, musim pancaroba menjadi masa paling rawan penyebaran penyakit ini.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X