Tes DNA, Ungkap Identitas Orangtua dan Kriminalitas

Kompas.com - 13/06/2011, 06:53 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Rabu (8/6), jasad bayi ditemukan di kolong jalan layang Kanal Timur, tepatnya di RT 01 RW 03 Pondok Bambu, Jakarta Timur. Bayi laki-laki ini ditemukan warga sekitar pukul 10.30 dalam kondisi tidak bernyawa. Cerita tentang jasad bayi yang ditemukan di ruang publik bukanlah yang pertama. Data yang diterima kamar jenazah RS Cipto Mangunkusumo, jenazah janin atau bayi yang baru dilahirkan berulang kali ditemukan terbuang di tempat umum.

Tanggal 5 Juni, janin perempuan yang diperkirakan berumur tujuh bulan ditemukan di pinggir Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Manggarai Selatan I RT 01 RW 10, Manggarai, Jakarta Selatan. Sedikitnya 12 janin dan bayi yang sudah tidak bernyawa dibuang di tempat umum di Jakarta dan sekitarnya, antara Januari dan Februari 2011.

Pada beberapa kasus, ada keluarga yang lantas mencari bayi dan janin. Persoalan ini terbantu dengan adanya penelitian deoxyribonucleic acid (DNA). DNA dari korban lantas dicocokkan dengan DNA keluarga. Apabila cocok, identitas bayi ini bisa diketahui.

Persoalan mencari kecocokan DNA ini yang membuat beberapa lembaga membuka pelayanan tes DNA. Salah satu lembaga yang menyediakan pelayanan ini adalah Lembaga Eijkman. Peneliti DNA di Lembaga Eijkman, Herawati Sudoyo, mengakui, permintaan meneliti DNA korban kasus kriminal semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kasusnya juga beragam.

”Selain menelusuri keluarga korban pembunuhan, tes ini juga dapat mencegah perdagangan anak dan bisa kembali ke keluarganya,” kata Herawati.

”Paternity test”

Persoalan yang tidak kalah menarik adalah kebutuhan untuk memastikan orangtua seorang anak. Di kalangan masyarakat perkotaan saat ini, kebutuhan ini semakin meningkat.

Tes yang disebut paternity test ini memiliki banyak peminat. Kendati membutuhkan biaya Rp 7,5 juta per paket, jumlah kasus yang ditangani Eijkman berjumlah 16 sampai 20 kasus per minggu. Peserta tes bukan hanya dari Jakarta, melainkan juga dari beberapa kota di Indonesia. Setiap kasus membutuhkan waktu pengetesan DNA sampai 10 hari. ”Sampel yang diambil adalah sampel dari anak dan orangtua, terutama ayah. Dari tes DNA, seorang anak bisa mengetahui orangtuanya,” ucap Herawati. Sampel yang diambil bisa berupa darah atau usapan lendir dari pipi.

Kebutuhan atas tes DNA semakin tinggi seiring merebaknya perselingkuhan atau kehamilan di luar nikah. Dalam beberapa kasus, paternity test juga mengungkap bayi yang tertukar di rumah sakit. Kompleksnya persoalan di kota besar membuat tes DNA kian dibutuhkan.  (Agnes Rita Sulistyawaty)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.