Kompas.com - 21/11/2012, 06:39 WIB
EditorLusia Kus Anna

Otak yang terlibat dalam urusan makanan kemungkinan adalah orbitofrontal cortex, yang menjadi lebih aktif pada saat perut kosong. Begitu para peneliti menawarkan makan siang pada akhir pengamatan, responden menjadi lebih banyak makan bila tidak sarapan. Tampaknya puasa membuat orang lebih lapar sehingga meningkatkan selera dan jumlah makanan yang berkalori tinggi.

”Akibatnya, orang justru akan semakin gemuk bila dia ingin langsing dengan cara tidak sarapan,” kata Dr Tony Goldstone dari Imperial College London.

Sebelumnya, penelitian pada 6.000 murid sekolah yang dilakukan oleh Toronto Foundation for Student Success menunjukkan, murid-murid yang sarapan punya nilai lebih baik dalam pelajaran dan lebih berpotensi untuk lulus sekolah.

Dengan demikian, kalau ingin tetap sehat, langsing, bisa berpikir jernih, dan waspada dalam setiap situasi, Anda harus sarapan.

Asal usul sarapan

Meskipun makan merupakan kebutuhan dasar manusia, ternyata kebiasaan sarapan tidak berjalan seiring tumbuhnya peradaban. Bangsa Romawi, misalnya, hanya makan sekali sehari pada siang hari. Menurut ahli sejarah makanan, Caroline Yeldham, bangsa Romawi percaya bahwa mereka lebih sehat bila tidak terlalu sering makan.

”Mereka terobsesi dengan pencernaan. Makan lebih dari sekali sehari berarti rakus dan akan berdampak buruk panjang pada kesehatan,” kata Yeldham.

Pada Abad Pertengahan, kebiasaan makan banyak dipengaruhi kehidupan dalam biara. Tidak boleh makan apa pun sebelum mengikuti misa pagi dan daging hanya boleh dimakan setengah dari total hari dalam setahun. ”Tampaknya kata breakfast masuk dalam kosakata bahasa Inggris pada zaman ini, yang arti harfiahnya adalah mematahkan (break) puasa (fast) malam sebelumnya,” kata sejarawan makanan lainnya, Ivan Day.

Baru pada abad ke-17, berbagai kalangan sosial memulai harinya dengan sarapan. Setelah periode restorasi yang dilakukan Charles II di Inggris, kopi, teh, dan makanan seperti daging asap dan telur goreng orak-arik muncul di meja makan orang-orang kaya. Bahkan, pada akhir tahun 1740-an, ruang khusus untuk sarapan selalu ada di rumah para bangsawan.

Ketika revolusi industri terjadi pada pertengahan abad ke-19, jam kerja menjadi teratur. Karena itu, para buruh perlu makan sebelum berangkat kerja untuk mendukung stamina mereka di pabrik, termasuk pimpinannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.