Kompas.com - 07/05/2013, 09:11 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Suplemen dalam berbagai bentuk untuk memperoleh ”kesempurnaan” tubuh marak beredar di pasaran. Konsumennya tidak hanya atlet, tetapi juga masyarakat umum. Tanpa mengetahui cara penggunaan yang tepat, suplemen bisa dikategorikan doping dan membahayakan tubuh.

Dokter spesialis keolahragaan, Michael Triangto, Senin (6/5) di Jakarta, menjelaskan, suplemen sebenarnya adalah makanan tambahan untuk mengisi kekurangan zat dalam tubuh. Bentuk dan fungsinya beraneka ragam.

”Ada yang berbentuk tablet, kapsul, bubuk seperti susu, dan lain-lain. Fungsinya juga macam-macam, di antaranya untuk memperbesar otot, menurunkan berat badan, dan meningkatkan energi,” ujar Michael.

Menurut Michael, yang berpengalaman menjadi dokter di pelatnas bulu tangkis Indonesia, keinginan memiliki bentuk tubuh indah terjadi di kalangan masyarakat umum. Untuk mempercepat proses tersebut, suplemen menjadi salah satu pilihan.

Namun, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum suplemen dikonsumsi, salah satunya si pengguna harus memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Suplemen hanya bisa digunakan seseorang dengan kondisi fisik sehat.

”Mereka yang sakit harus berkonsultasi dahulu dengan dokter karena bisa saja zat dalam suplemen justru memperparah sakitnya,” kata Michael.

Pemakai suplemen juga harus membaca dengan detail petunjuk yang ada dalam kemasan. Michael bahkan menyarankan, pengguna baru sebaiknya mengurangi dosis dari yang disarankan. ”Umumnya, dosis suplemen dalam kemasan adalah untuk konsumen orang Barat yang bertubuh lebih besar dari orang Indonesia. Postur tubuh juga memengaruhi dosis yang semestinya dikonsumsi,” ujar Michael.

Tanpa dosis yang tepat, efek negatif akan muncul pada penggunaan terus-menerus, seperti kebotakan, ginjal dan hati tak berfungsi, serangan jantung, penglihatan terganggu, serta gangguan otak dan syaraf.

Karena itu, penggunaan suplemen akan lebih baik jika didampingi petunjuk dokter. ”Jangan mengikuti petunjuk teman atau saudara yang sudah memakai karena bisa saja efeknya berbeda,” ujar Michael.

Apalagi, seperti diungkapkan dokter olahraga lainnya, Roy Tobing, banyak suplemen pembentuk massa otot yang tidak terdaftar dan tidak memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Para penjual suplemen beralasan, barang dagangan mereka sudah terdaftar di Food and Drug Association Amerika Serikat atau terdaftar di negara maju lainnya.

Halaman:

Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.