Kompas.com - 13/02/2015, 12:10 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Mulai tertarik pada lawan jenis dan ingin terlihat menarik adalah hal yang normal saat remaja. Para remaja ini pun ingin merasakan pacaran dan jatuh cinta. Tetapi, belum banyak remaja yang mengerti bagaimana cara pacaran yang sehat.

Menurut psikolog Roslina Verauli, kegiatan pacaran dimaksudkan sebagai kegiatan yang akrab antara dua orang yang tertarik satu sama lain.

Berdasarkan sejumlah riset, kegiatan pacaran ditujukan antara lain untuk bersenang-senang, mengenal lawan jenis lebih dalam, memperluas jaringan pergaulan, hingga untuk status sosial saja.

Verauli mengatakan, tidak semua pacaran didasari oleh rasa cinta. "Ada juga kegiatan pacaran yang dilakukan demi alasan finansial karena bisa memperoleh bermacam fasilitas dengan gratis, alias bermodus," kata psikolog anak dan remaja ini.

Tak bisa dipungkiri, saat ini gaya berpacaran remaja sudah semakin permisif. Berpelukan, berciuman, rabaan, bahkan hubungan seksual, dianggap sebagai bentuk kasih sayang terhadap lawan jenis.

"Pengetahuan akan seks pada remaja masih sangat kurang sehingga menyebabkan persepsi yang salah. Para remaja masih belum bisa membedakan antara cinta, seks, dan pacaran. Mereka masih menganggap bahwa seks merupakan manifestasi dari cinta," katanya.

Senada dengan Verauli, psikolog Anna Surti Ariani atau akrab disapa Nina, juga menegaskan pentingnya pengetahuan seksual.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Remaja harus punya pengetahuan bahwa apa efeknya jika ia melakukan seks. Ia juga harus punya keyakinan kalau tubuhnya berharga, tidak untuk dirusak atau dirugkan dengan cara-cara seperti itu,” terang Nina.

Keyakinan untuk menjaga dirinya sendiri dan orang lain juga perlu dimiliki oleh remaja. “Saya menghargai tubuh saya berarti saya tidak mau mencelakai tubuh saya, saya juga menghargai tubuh orang lain. Saling menghargai sebagai ciptaan Tuhan,” lanjutnya.

Sebagai pendidik utama bagi anak, orangtua seharusnya jangan menganggap seks itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Justru jika orangtua bersikap tertutup, anak akan mencari informasi dari sumber yang tidak jelas, seperti dari internet atau dari temannya.

Komunikasi mengenai kesehatan reproduksi dan pacaran sehat tentu saja harus dilakukan lewat diskusi yang berkesinambungan, dimulai dari anak pra sekolah sampai mereka usia remaja. Tentu saja dengan gaya bahasa dan tema seusai dengan usia anak.

Pacaran sehat juga tidak hanya berarti menghindari rangsangan seksual atau hubungan seks saja, tapi juga tidak menyakiti fisik mau pun psikis.

Orangtua dan anak juga bisa menyepakati aturan tentang berpacaran atau pergaulan dengan lawan jenis, misalnya batasan yang tidak boleh dilanggar dan mana yang masih bisa dinegosiasikan. Jelaskan juga apa konsekuensinya jka anak melanggar. (Monica Erisanti/Purwandini Sakti Pratiwi)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X