Kompas.com - 03/07/2015, 15:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

C-Tech Labs Edwar Technology, Indonesia, adalah satu dari sedikit pengembang teknologi yang berasal dari negara berkembang di bidang yang didominasi negara-negara maju seperti Jerman, Jepang dan AS. C-Tech Labs mengembangkan metode terapi kanker pertama di dunia yang memakai gelombang listrik berenergi rendah (kurang dari 30 watt) dinamakan Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT).

Warsito P Taruno, Direktur CTech Labs yang juga penemu ECCT, dalam Kongres ISLA itu, memaparkan terapi kanker payudara stadium 4 yang menyebar ke paru-paru, organ hati, tulang, dan otak dengan ECCT. Hasil terapi yang disampaikan Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) itu mengundang pertanyaan dari para peserta kongres.

Dibandingkan dengan fakta tentang kanker dan teknologi terapi saat ini, hasil penggunaan ECCT dinilai "fantastis", tetapi mengundang keraguan sejumlah pihak. Kondisi puluhan pasien kanker stadium lanjut yang ditangani dengan ECCT membaik, dari semula tak mampu bangun dari tempat tidur hingga bisa kembali beraktivitas secara normal. Bahkan, banyak pasien yang sel kankernya tak terdeteksi lagi (complete remission) secara medis.

Warsito memaparkan hasil statistik pasien yang menjalani terapi ECCT, yang umumnya menderita kanker stadium lanjut. Dengan lama terapi rata-rata 2,5 tahun, tingkat bertahan hidup pasien rata-rata 80 persen untuk kasus kanker payudara, 75 persen untuk kanker otak, dan 57 persen untuk kanker paru-paru. Kondisi sekitar 90 persen dari total pasien yang bertahan hidup membaik, mencapai tingkat terbebas total ataupun sel kanker tak berkembang.

Mikhael Weber, Presiden ISLA-penemu terapi laser level rendah (LLLT) untuk kanker-dan Weber Laser yang teknologinya banyak dipakai di dunia, terkesan hasil terapi ECCT.

"Dengan menggunakan LLLT, ada kasus kanker payudara yang awalnya ukuran 5 sentimeter dalam 1 tahun mengecil hingga jadi 2 cm. Namun, melihat hasil ECCT dengan banyak kasus kanker yang menyebar ke organ lain bisa kembali normal, saya tak bisa komentar," ujar Weber saat datang ke klinik dan fasilitas riset C-Tech Labs di Tangerang, Banten, akhir 2014.

Dalam Kongres ISLA Ke-10, juga ditandatangani perjanjian kerja sama C-Tech Labs dan Medical Systems, perusahaan Weber, untuk memanfaatkan teknologi ECCT dalam terapi kanker di Jerman dan semua klinik Medical Systems di dunia.

Toshio Inui, ahli immunotherapy dari Jepang, dan Norbert Szalus dari Polandia adalah para ahli onkologi yang menerapkan ECCT untuk menangani pasien kanker stadium lanjut. Setelah menjalani terapi ECCT selama 6 bulan, kondisi sejumlah pasien mulai membaik. (DEDI MUHTADI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.