Kompas.com - 13/08/2015, 12:06 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Semakin banyak wanita lajang di Inggris yang mencoba hamil memakai prosedur bayi tabung. Jumlahnya naik tiga kali lipat dalam kurun waktu kurang sepuluh tahun. Peningkatannya 20 persen hanya dalam setahun. 

Para ahli menduga alasannya semakin banyak wanita bekerja yang menunda berkeluarga dan memilih hamil sebelum terlambat. Tetapi, ada juga yang menduga peningkatan itu karena pria cenderung enggan menikah dan punya anak. Mereka ketakutan harus menanggung risiko perceraian yang mahal.

Dr. Marilyn Glenville, seorang ahli gizi khusus wanita mengatakan,"Wanita menunggu semakin lama untuk punya anak. Semakin banyak wanita meniti karir, punya rumah sendiri, punya keuangan stabil tetapi belum bertemu jodoh atau hubungan asmaranya berakhir mendadak."

"Mereka berada di kelompok usia tua kesuburan dan merasa tidak punya waktu lagi untuk memulai hubungan dan punya anak dengan pacar baru. Tetapi juga ada masalah di sisi lain, pria tidak ingin berkomitmen dalam perkawinan. Mungkin itu juga yang meningkatkan angka statistik," tambahnya.

"Banyak kisah mengenai wanita yang mendapatkan uang cerai sangat banyak. Ada pula cerita tentang wanita yang menuntut suaminya yang milioner setelah pernikahan berakhir di tahun ke-12. Pria yang mapan secara ekonomi khawatir akhirnya mereka harus kehilangan uangnya karena perceraian," katanya.

Wanita lajang Inggris tidak bisa mendapatkan terapi bayi tabung di badan pemerintah National Health Service tetapi banyak klinik yang didanai negara menawarkan jasa secara swasta. Bristol Center of Reproductive Medicine, salah satu klinik kesuburan terkemuka di Inggris memberikan jasa bayi tabung untuk wanita lajang hingga dua tahun lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tahun lalu mereka menerapi 12 wanita, dua kali dari tahun sebelumnya. Para dokter di klinik itu berharap, angka itu meningkat dari tahun ke tahun sampai tiga tahun ke depan.

Dr. Valentine Akande di klinik tersebut mengatakan,"Data sangat jelas mengatakan terjadi peningkatan kasus bayi tabung pada wanita menggunakan sperma dari donor."

Pilihan ini bukanlah yang diinginkan sebagian besar wanita. Mereka lebih memilih punya anak bersama suami. Tetapi mereka memilih bayi tabung dengan sperma donor, karena tak punya pilihan lain.

Para wanita itu menyadari ketika mereka mencapai usia tertentu, kesempatan untuk hamil berkurang. Kalau mereka tak hamil saat ini, kesempatan mungkin tak terjadi di masa depan.

Dr. Akande mengatakan penurunan kesuburan wanita dimulai di usia 31. Pada usia 35 penurunan itu menjadi bermakna dan di usia 40 kemungkinan punya anak semakin kecil.

Ia mengatakan tak ada stigma di Inggris melekat pada ibu tunggal juga pada bayi tabung. Hal ini membuat lebih banyak lagi wanita tak menikah untuk mendapatkan terapi bayi tabung.

Pendekatan masyarakat Inggris yang terbuka terhadap ibu tunggal dan bayi tabung itu tak pelak bakal membuat wanita lajang yang tak boleh mendapat bayi tabung di negaranya bakal datang ke Inggris. "Beberapa tahun lalu masyarakat dan pembuat regulasi mengatakan, Anda butuh suami untuk mendapatkan terapi bayi tabung. Penerimaan masyarakat sudah mengubah segalanya," katanya.

"Masyarakat sudah bicara bebas soal bayi tabung kendati sempat diperdebatkan beberapa tahun lalu dan ditolak. Jumlah ibu tunggal dengan bayi tabung akan terus meningkat," tuturnya.


Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X