Kompas.com - 29/02/2016, 16:07 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Gagal ginjal kronis menurunkan kualitas hidup, bahkan mengancam keselamatan jiwa penderitanya. Transplantasi ginjal menjadi harapan bagi penderita untuk bisa kembali beraktivitas secara normal. Namun, bukan perkara mudah untuk memperoleh donor yang cocok dan layanan transplantasi organ tubuh itu.

Salah satu pasien gagal ginjal kronis yang telah menjalani transplantasi ginjal itu ialah Keyse Libertinia (39). Semula perempuan yang berprofesi sebagai pendeta itu mengalami vertigo pada 2010. Dari hasil ultrasonografi, ginjalnya ukuran kecil dan mengerut. Ia didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis karena faktor genetik.

Ia sempat berobat ke Penang, Malaysia. Kondisinya kian parah sehingga pada November 2013 ia harus menjalani cuci darah tiga kali dalam sepekan selama 1,5 tahun. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjalani transplantasi ginjal. "Beruntung ginjal suami saya sangat cocok bagi saya," ucapnya.

Persiapan cangkok ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM) dimulai Januari 2015. Rangkaian tes dijalani Keyse dan suaminya, Berghouser Tambunan (39), di antaranya tes virus, kecocokan darah, tes gigi, tes mulut, dan psikotes. Seusai dicangkok ginjal pada 19 Mei 2015, ia diisolasi 6 bulan di rumah karena kekebalan tubuh dikondisikan rendah saat operasi agar organ ginjal suami tak ditolak tubuhnya.

Setelah cangkok ginjal, ia mengaku metabolisme tubuhnya jadi lebih baik. "Dulu saya hampir putus asa, kini saya lebih kuat jalani hidup," ujarnya.

Namun, banyak penderita gagal ginjal kronis tak kunjung menjalani transplantasi ginjal. Mereka harus cuci darah dan mengonsumsi obat-obatan selama bertahun-tahun karena tak mendapat donor ginjal. Mereka juga antre menanti ketersediaan kamar dan jadwal operasi.

Tony Samosir (32), misalnya, telah divonis gagal ginjal hipertensi sejak 2009. Tony yang juga Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) itu mengaku sulit menemukan donor bagi para pasien gagal ginjal. "Tak ada orang rela mendonorkan ginjalnya. Sebanyak 85 pasien di komunitas belum bisa transplantasi," katanya.

Transaksional

Ada juga orang menawarkan jadi donor ginjal tetapi transaksional. "Kami menolak karena perdagangan organ tak diperbolehkan. Kami hanya bisa berharap donor dari keluarga dan mengandalkan cuci darah untuk bertahan hidup," kata Tony.

Meski donor, tak berarti bisa segera dilayani. Tony mendaftarkan diri untuk cangkok ginjal sejak Oktober 2015. Istrinya siap mendonorkan ginjal. Hingga kini, ia belum dioperasi karena kamar di RSCM penuh. "Kamar belum tersedia, harus pakai VVIP," keluh peserta Jaminan Kesehatan Nasional itu.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.