Kompas.com - 03/10/2016, 13:00 WIB
Ilustrasi kanker TOTO SIHONOIlustrasi kanker
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Kanker merupakan penyakit yang berbahaya, bukan karena kemampuannya bermutasi dan terus berkembang, tapi juga terkadang tak mempan diobati obat-obatan kemoterapi.

Neville Sanjana dari New York Genome Center dan Universitas New York bersama dengan timnya menggunakan teknologi baru yang disebut CRISPR untuk mengedit gen tumor secara akurat.

Dengan teknologi baru ini tim peneliti ingin memotong bagian spesifik dari gen untuk mengetahui apakah area itu terpengaruh oleh cara pertumbuhan kanker.

Bukan hanya fokus pada gen kanker yang sudah diketahui, tetapi tim ahli secara khusus memilih gen yang belum dikode. Sejauh ini para ilmuwan menyebut bagian tak bernama itu sebagai gen junk DNA karena dianggap tak penting pada fungsi gen.

Yang menarik, ternyata bagian dari junk DNA itu penting pada cara kerja DNA. Ibarat  sutradara dan produser dalam sebuah film, mereka tak terlihat tetapi mengarahkan. Area yang belum terkode ini menyediakan instruksi penting, misalnya kapan gen aktif dan seberapa banyak protein yang diproduksi.

"Genome mirip seperti sebuah teks, jika kita tak punya Microsoft Word untuk memotong, menyalin, dan menempel, sulit untuk melakukan manipulasi teks. Baru-baru ini tersedia alat seperti CRISPR untuk menulis dan mengedit teks," kata Sanjana.

Dalam penelitiannya, Sanjana memilih secara selektif dan mengedit secara metodis bagian gen yang spesifik dari sel kanker melanoma pasien, kemudian memaparkannya dengan obat antikanker yang biasa dipakai dokter.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasilnya, Sanjana menemukan bagian yang berkontribusi pada resistensi obat. Mereka juga berhasil mengidentifikasi bagian spesifik yang bisa dipakai untuk mengenali pasien yang mungkin kebal pada pengobatn tertentu dan perlu dilakukan terapi kombinasi.

Informasi tersebut tentu sangat penting dalam menciptakan satu obat baru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber Healthland
Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Nyeri Mata
Nyeri Mata
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Skizoafektif

Skizoafektif

Penyakit
7 Fungsi Kalium untuk Tubuh

7 Fungsi Kalium untuk Tubuh

Health
Trakhoma

Trakhoma

Penyakit
6 Gejala Bronkiolitis yang Perlu Diwaspadai

6 Gejala Bronkiolitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Abses Otak

Abses Otak

Penyakit
10 Jenis Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

10 Jenis Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

Health
Hemangioma

Hemangioma

Penyakit
2 Penyebab Abses Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

2 Penyebab Abses Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

Health
Displasia Fibrosa

Displasia Fibrosa

Penyakit
10 Tanda Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

10 Tanda Infeksi Paru-paru yang Perlu Diwaspadai

Health
5 Makanan Ini Bantu Anda Cepat Sembuh dari Flu

5 Makanan Ini Bantu Anda Cepat Sembuh dari Flu

Health
13 Penyebab Kenapa Ada Benjolan di Leher

13 Penyebab Kenapa Ada Benjolan di Leher

Health
16 Penyebab Anus Sakit dan Cara Mengobatinya

16 Penyebab Anus Sakit dan Cara Mengobatinya

Health
Klamidia

Klamidia

Penyakit
5 Makanan yang Baik Dikonsumsi Setelah Sunat Agar Luka Cepat Kering

5 Makanan yang Baik Dikonsumsi Setelah Sunat Agar Luka Cepat Kering

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.