Kompas.com - 26/01/2020, 13:31 WIB
Eks penderita kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOEks penderita kusta di Kampung Sitanala, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Selasa (20/8/2019). Di kampung yang berada di belakang RS dr. Sitanala ini dihuni sekitar 1000 eks penderita kusta dan keluarganya.

KOMPAS.com – Peringatan Hari Kusta Sedunia pada tahun ini jatuh pada Minggu (26/1/2020).

Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy Day selalu diperingati setiap hari Minggu terakhir di bulan Januari.

Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta yang kerap terabaikan.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. dr. Prasetyadi Mawardi, Sp.KK (K), berpendapat kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.

Baca juga: Mengenal Penyebab dan Cara Mudah Mengatasi Gatal pada Penis

Menurut data yang dia peroleh, Indonesia masih menduduki peringkat 3 penyakit kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil hingga memasuki abad 21 ini.

Namun, Pras mengungkapkan, prevalensi penyakit kusta sebenarnya telah menurun hingga 86 persen dalam periode 15 tahun terakhir.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Hari Kusta Sedunia, Penanganannya Terkendala Stigma Masyarakat
Dokter ingin peringatan hari kusta sedunia bisa dijadikan momentum bagi masyarakat untuk membuang stigma negatif terhadap penderita kusta.
Bagikan artikel ini melalui

Peningkatan angka yang signifikan dalam pengendalian kusta tersebut dipengaruhi oleh faktor promosi besar-besaran pencegahan kusta danmultidrug therapy (MDT) di lebih dari 5.600 pusat kesehatan primer (Puskesmas) di Tanah Air.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di RSUD Dr. Moewardi Surakarta itu menyatakan, pada tahun 2020 ini, ada sejumlah sasaran strategi global baru yang harus dipenuhi terkait penanganan kasus penyakit kusta, di antaranya:

  1. Tanpa cacat di antara pasien anak baru
  2. Tingkat kecacatan derajat 2 kurang dari 1 kasus per 1 juta orang
  3. Tidak ada satupun negara melakukan diskriminasi terhadap penyakitn kusta

Dia menjelaskan pengucilan dan sikap leprofobia (rasa takut pada lepra atau kusta) telah dilarang keras oleh WHO.

Baca juga: Waspada Kutil Kelamin (1): Gejalanya Kerap Tak Disadari

Hal itu salah satunya merujuk pada pertimbangan keberhasilan terapi MDT yang signifikan. Oleh sebab itu, tidak ada alasan lagi bagi siapa saja untuk mendiskriminasi para penderita kusta.

Kusta bukan penyakit kutukan

Pras menegaskan kusta bukanlah penyakit akibat kutukan. Menurut dia, anggapan itu hanya mitos belaka.

Kusta tidak lain adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. 

Ketua Kelompok Studi Herpes Indonesia itu berharap stigma negatif terhadap penderita kusta dan leprofobia pada masyarakat mulai dihilangkan. Pasalnya, hal tersebut dapat menyebabkan sejumlah kerugian, di antaranya:

  1. Perasaan negatif masyarakat mengenai kusta memengaruhi fisik, psikologis, sosial, hingga kesejahteraan ekonomi penderita
  2. Menimbulkan hambatan besar untuk perawatan awal penyakit
  3. Mengintensifkan isolasi sosial
  4. Menyebabkan munculnya gangguan kejiwaan yang terus menjadi lazim pada pasien kusta

Baca juga: Waspada Kutil Kelamin (2): Bisa Sebesar Melon dan Jadi Kanker

"Penelitian oleh Bakker et al. menemukan bahwa faktor risiko kusta di Indonesia adalah genetik, ukuran rumah tangga, dan jenis kelamin," jelas Pras ketika diwawancara Kompas.com, Sabtu (25/1/2020).

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Gejala Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

15 Gejala Pendarahan Otak yang Perlu Diwaspadai

Health
Kram Perut

Kram Perut

Penyakit
Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Tidak Mengalami KIPI, Apakah Vaksin Covid-19 Tetap Bekerja?

Health
Malnutrisi

Malnutrisi

Penyakit
Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Penyebab Nyeri Dada pada Wanita yang Harus Diwaspadai

Health
Anosmia

Anosmia

Penyakit
Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Cara Menurunkan Berat Badan dengan Cuka Apel

Health
Pantat Pegal

Pantat Pegal

Penyakit
12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

12 Tanda Awal Kehamilan, Tak Melulu Menstruasi Terlambat

Health
Perut Buncit

Perut Buncit

Penyakit
Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Ini Alasan Usia Kehamilan Bisa Lebih Tua dari Usia Pernikahan?

Health
Kulit Belang

Kulit Belang

Penyakit
10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

10 Cara Mengobati Penyakit Perlemakan Hati Secara Alami

Health
Betis Bengkak

Betis Bengkak

Penyakit
Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Kapan Sebaiknya Pemeriksaan Kesehatan Dilakukan Saat Merencanakan Kehamilan?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.