Kompas.com - 15/02/2020, 09:06 WIB
Ilustrasi keguguran Shutterstock.comIlustrasi keguguran

KOMPAS.com - Keguguran menjadi momentum kelabu bagi pasangan yang tengah mendambakan buah hati.

Dalam kondisi berduka, pasangan umumnya sempat merasakan stres dan gamang untuk mengupayakan kehamilan lagi.

Wajar, bila pasangan merasa kehilangan namun masih berharap untuk kembali mendambakan momongan atau rainbow baby.

Baca juga: Ibu Hamil Ingin Minum Kopi, Bagaimana Baiknya?

Rainbow baby adalah istilah untuk menyebut buah hati yang hadir setelah ibu mengalami keguguran atau kehilangan anaknya.

Pasangan yang baru melewati fase keguguran, berikut ulasan untuk memahami penyebab keguguran dan kapan waktu yang tepat untuk hamil lagi.

Penyebab keguguran

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Jogja International Hospital (JIH) Solo, dr. Bima Suryantara, Sp.OG (K) menjelaskan, gugurnya janin dalam kandungan dapat disebabkan banyak faktor.

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Kapan Waktu yang Tepat untuk Hamil Lagi Setelah Keguguran?
Para ibu yang baru keguguran membutuhkan waktu untuk pemulihan fisik dan mental sebelum siap hamil lagi. Simak penjelasan dokter berikut ini.
Bagikan artikel ini melalui

Menurut sosok yang akrab disapa Dokter Bima ini, ada faktor penyebab keguguran yang dapat dikendalikan. Tapi, ada juga penyebab keguguran yang tak terhindarkan.

Beberapa penyebab keguguran antara lain usia ibu saat melahirkan terlalu tua, infeksi TORCH (toxoplasma, rubella, CMV, Herpes), penyakit tiroid, dan diabetes mellitus.

Selain itu, risiko keguguran pada ibu hamil juga meningkat karena adanya kelainan kromosom pada embrio, kelainan bentuk rahim, kelainan pada serviks, dan kelainan faktor pembekuan darah.

"Penyebab keguguran tersebut juga dapat meningkatkan risiko keguguran berulang," jelas Bima, ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (14/2/2020).

Baca juga: Mitos atau Fakta, Ibu Hamil Pantang Minum Susu Kedelai?

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sakit Kepala Tegang

Sakit Kepala Tegang

Penyakit
Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Memahami Penyebab dan Gejala Infeksi Usus Buntu

Health
Inkompatibilitas ABO

Inkompatibilitas ABO

Penyakit
3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

3 Aktivitas yang Membawa Risiko Tinggi Covid-19

Health
3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

Health
Pandangan Kabur

Pandangan Kabur

Penyakit
Mata Berair

Mata Berair

Penyakit
Ahli Gizi: Harus Bijak Konsumsi Susu Kental Manis

Ahli Gizi: Harus Bijak Konsumsi Susu Kental Manis

Health
Nyeri Kaki dan Tangan

Nyeri Kaki dan Tangan

Penyakit
Alasan Gula Tak Memiliki Persentase AKG dalam Makanan Kemasan

Alasan Gula Tak Memiliki Persentase AKG dalam Makanan Kemasan

Health
Osteofit

Osteofit

Penyakit
3 Bahaya Konsumsi Susu Kental Manis Berlebihan untuk Kesehatan

3 Bahaya Konsumsi Susu Kental Manis Berlebihan untuk Kesehatan

Health
Hifema

Hifema

Penyakit
13 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Ketiga

13 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Ketiga

Health
Gigi Berlubang

Gigi Berlubang

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.