Kompas.com - 02/03/2020, 15:02 WIB

Para ahli menyebut, umumnya jabat tangan lebih lama tiga detik daripada tos atau adu kepalan tangan.

Selain terkait durasi kontak, beragam gaya bersalaman juga dipengaruhi tekanan saat berjabat tangan.

Ahli mengunakan alat dinamometer untuk menakar pengaruh tekanan atau cengkeraman tangan orang saat bersalaman, dengan penularan bakteri.

Jabat tangan erat memungkinkan penularan bakteri lebih banyak ketimbang orang yang berjabat tangan tidak terlalu erat.

Menurut peneliti, riset eksperimentalnya bisa jadi menelurkan hasil serupa apabila materi mikrobanya diganti virus atau patogen berbahaya.

"Demi alasan kesehatan, kami menyarankan orang beradu kepalan tangan (fist bump) yang lebih higienis daripada bersalaman biasa," kata peneliti.

Baca juga: Dikeluhkan Sejuta Umat, Masuk Angin Sebenarnya Penyakit Apa?

Dilema jabat tangan

Selain riset dari Wales, ahli dari West Virginia University juga pernah membuat riset mini dengan melibatkan dua pekerja rumah sakit.

Kedua tenaga kesehatan itu diminta berpindah dari lobi rumah sakit menuju ruang bedah di lantai lima.

Sepanjang perjalanan, dua orang tersebut memencet tombol lift, membuka gagang pintu, dan memegang benda sekitar yang bagian permukaannya potensial mengandung kuman.

Setibanya di lantai kelima, kedua tenaga kesehatan tersebut menjabat tangan 20 orang tenaga kesehatan lainnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.