Kompas.com - 03/03/2020, 12:06 WIB
Warga berjalan di bawah hujan abu vulkanik setinggi 5.809 mdpl berwarna kelabu akibat letusan Gunung Soputan, di atas Desa Kota Menara, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi memutuskan menetapkan status aktivitas Gunung Soputan yang meletus pada Rabu pukul 08.47 Wita, naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONOWarga berjalan di bawah hujan abu vulkanik setinggi 5.809 mdpl berwarna kelabu akibat letusan Gunung Soputan, di atas Desa Kota Menara, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi memutuskan menetapkan status aktivitas Gunung Soputan yang meletus pada Rabu pukul 08.47 Wita, naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

KOMPAS.com - Gunung Merapi dilaporkan kembali erupsi pada Selasa (3/3/2020) pukul 05.33 WIB.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari fenomena alam tersebut, yakni munculnya abu vulkanik di sejumlah daerah di sekitar gunung.

Dokter Spesialis Paru RSUD Dr. Moewardi, Dokter Spesialis Paru RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Dr. dr. Harsini, Sp.P (K), mengatakan komponen abu vulkanik yang halus memiliki sifat iritatif dan korosif karena memiliki kandungan asam.

Baca juga: Masker Tak Efektif Cegah Virus Corona, Malah Bisa Tingkatkan Risiko Infeksi

Dalam waktu singkat, abu vulkanik bisa saja menyebabkan iritasi pada kulit sehingga terasa gatal dan berubah kemerahan.

Iritasi itu juga bisa terjadi pada mata sehingga menimbulkan rasa perih dan berair.

Bukan hanya itu, ukuran abu vulkanik yang sangat halus juga bisa terhirup ke saluran pernapasan atas hingga menyebabkan iritasi di sana.

"Gejala yang timbul biasanya hidung terasa gatal dan tenggorokan sakit," kata Harsini saat diwawancarai Kompas.com, Selasa.

Harsini membenarkan abu vulkanik yang berukuran lebih kecil lagi yakni di bawah 5 mikron bahkan dapat masuk ke dalam paru-paru.

Jika hal itu sampai terjadi, seseorang bisa kemudian mengalami batuk-batuk.

Pada kondisi tertentu, mereka bahkan mungkin akan mengalami batuk berdahak, sakit dada, hingga sesak napas.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lupus Nefritis

Lupus Nefritis

Penyakit
Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Bisakah Anak-Anak Mengalami Gangguan Bipolar?

Health
Karsinoma Nasofaring

Karsinoma Nasofaring

Penyakit
Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Kenali Berbagai Gejala Gangguan Bipolar

Health
Pseudobulbar Affect (PBA)

Pseudobulbar Affect (PBA)

Health
10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

10 Penyebab Kram Perut dan Cara Mengatasinya

Health
Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Mengenal Beda Diabetes Tipe 1 dan Diabetes Tipe 2

Health
10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

10 Cara Mengatasi Tenggorokan Gatal dan Batuk

Health
Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Apa Penyebab Jerawat di Vagina?

Health
Vaginosis Bakterialis

Vaginosis Bakterialis

Penyakit
5 Cara Terapi Uap untuk Mengatasi Hidung Tersumbat

5 Cara Terapi Uap untuk Mengatasi Hidung Tersumbat

Health
Polisitemia Vera

Polisitemia Vera

Penyakit
Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Merasa Sakit di Bawah Payudara Kiri? Kenali Penyebabnya

Health
Oligomenore

Oligomenore

Penyakit
Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Mengapa Gigitan Nyamuk Terasa Gatal di Kulit?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.