7 Penyakit yang Mengintai Sistem Reproduksi Wanita

Kompas.com - 23/07/2020, 18:03 WIB
ilustrasi organ reproduksi wanita Shutterstock/CLIPAREAilustrasi organ reproduksi wanita

KOMPAS.com - Sistem reproduksi wanita mengatur menstruasi, kesuburan, kehamilan, sampai menopause.

Sistem reproduksi wanita memiliki beragam fungsi yang saling berkaitan satu sama lain.

Apabila salah satu organ penyusun sistem reproduksi wanita terganggu, dampaknya bisa mengganggu kinerja bagian lain.

Baca juga: 5 Penyakit Tidak Menular yang Jadi Momok Bagi Para Wanita

Melansir Cleveland Clinic, bagian organ reproduksi wanita ovarium berguna untuk menghasilkan sel telur.

Sel telur tersebut lalu diangkut ke tuba falopi, tempat di mana sel telur bisa dibuahi sperma.

Sel telur yang sudah buahi lalu masuk ke rahim. Begitu berada di rahim, sel telur yang dibuahi dapat berkembang menjadi janin.

Apabila tidak terjadi pembuahan, lapisan rahim akan meluruh sebagai menstruasi atau haid.

Selain itu, sistem reproduksi wanita secara juga berfungsi mengatur hormon seks dan menjaga siklus reproduksi.

Menjelang menopause atau mati haid, sistem reproduksi wanita secara bertahap mengurangi produksi hormon kewanitaan.

Proses ini diikuti perubahan siklus haid dari tidak teratur sampai berhenti total. Setelah satu tahun tidak haid, wanita disebut mengalami menopause.

Ada beberapa penyakit pada sistem reproduksi manusia yang bisa mengganggu kinerja organ-organnya.

Baca juga: 10 Gejala Awal Sakit Ginjal, Lebih Kerap Serang Wanita

Melansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, berikut sejumlah penyakit pada sistem reproduksi wanita:

1. Endometriosis

Endometriosis adalah masalah kesehatan saat jaringan yang biasanya melapisi rahim tumbuh di tempat lain seperti indung telur, belakang rahim, usus, atau kandung kemih.

Penyakit ini bisa memengaruhi fungsi dan kinerja rahim. Pertumbuhan jaringan tidak normal ini juga dapat menyebabkan nyeri, masalah kesuburan, dan haid yang sangat sakit.

Rasa nyeri karena endometriosis bisa dirasakan penderita di perut, punggung bawah, atau daerah panggul.

Beberapa wanita penderita endometriosis bisa tidak merasakan gejala nyeri atau tidak nyaman di tubuh sama sekali. Salah satu gejala utamanya yang bisa dideteksi adalah susah hamil.

Baca juga: Jerawat di Kemaluan Wanita: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi

2. Fibroid rahim

IlustrasiShutterstock Ilustrasi
Fibroid rahim adalah tumor non-kanker yang kerap diidap wanita usia subur.

Fibroid ini terdiri atas sel otot dan jaringan yang tumbuh di dalam rahim, di sekitar dinding rahim, atau rahim.

Penyebab penyakit pada sistem reproduksi ini tidak diketahui. Namun, kelebihan berat badan bisa meningkatkan risiko wanita menderita fibroid rahim.

Gejala fibroid rahim di antaranya nyeri haid hebat, ada pendarahan di luar siklus menstruasi, perut bagian bawah sesak, sering kencing, sakit punggung, dan nyeri saat berhubungan seks.

Fibroid rahim juga bisa menimbulkan masalah reproduksi seperti susah hamil, keguguran berulang, atau persalinan dini.

Baca juga: 3 Ciri-ciri Penyakit Jantung pada Wanita, Selain Nyeri Dada

3. Kanker ginekologi

Kanker ginekologi adalah tumor ganas yang awalnya tumbuh di organ reproduksi.

Kanker ginekologi pada wanita biasanya muncul kali pertama di daerah panggul. Area ini terletak di perut bagian bawah dan di antara tulang pinggul.

Berdasarkan tempat awal pertumbuhan kanker, terdapat beberapa jenis kanker ginekologi, antara lain:

  • Kanker serviks: dimulai dari serviks atau daerah penghubung rahim (uterus) dan vagina
  • Kanker ovarium: dimulai dari ovarium atau indung telur di setiap sisi rahim
  • Kanker rahim: dimulai dari dalam rahim atau organ tempat janin tumbuh
  • Kanker vagina: dimulai dari vagina
  • Kanker vulva: dimulai dari vulva atau alat kelamin bagian luar wanita.

Baca juga: Gejala Awal Kanker Ovarium yang Kerap Tak Disadari

4. HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/ADISShutterstock Ilustrasi HIV/ADIS
Human immunodeficiency virus atau HIV adalah jenis virus yang menyerang sel CD4 bagian dari sistem daya tahan tubuh.

HIV dapat menyebabkan sindrom defisiensi imun atau AIDS. AIDS adalah tahap akhir dari infeksi HIV, ketika sistem kekebalan seseorang rusak parah.

Wanita bisa terinfeksi HIV karena melakukan hubungan seks dengan penderita, atau menggunakan jarum suntik bekas penderita HIV.

Ibu hamil positif HIV bisa mengantisipasi penularan HIV pada bayi dengan melakukan prosedur khusus selama hamil, bersalin, sampai menyusui.

Baca juga: Studi Ungkap Wanita Lebih Rentan Idap Penyakit Jantung, Kok Bisa?

5. Radang kandung kemih

Interstitial cystitis atau sistitis interstitial (IC) adalah radang kandung kemih kronis yang menimbulkan nyeri di kandung kemih atau daerah sekitar panggul.

Radang atau iritasi pada kandung kemih dapat memicu pertumbuhan jaringan parut dan kaku di kandung kemih. Penyakit ini juga lebih sering menyerang wanita ketimbang pria.

Beberapa gejala sistitis interstitial di antaranya rasa tidak nyaman atau sakit di perut atau panggul, sering kencing, ada tekanan di perut atau panggul.

Baca juga: Ciri-ciri Kanker Payudara Stadium Akhir

6. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Ilustrasi PCOS Ilustrasi PCOS
Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) terjadi ketika kelenjar adrenalin di indung telur menghasilkan hormon pria berlebihan.

Salah satu dampaknya, muncul kista atau kantung berisi cairan di ovarium.

Wanita yang obesitas lebih mudah terserang PCOS. Wanita dengan PCOS berisiko lebih tinggi terkena diabetes dan penyakit jantung.

Gejala PCOS di antaranya tidak subur, nyeri panggul, pertumbuhan rambut berlebih di wajah, dada, perut, ibu jari, atau jari kaki.

Selain itu, tanda-tanda PCOS lain yakni botak atau rambut rontok, jerawat dan kulit berminyak, ketombe, ada bercak cokelat atau hitam di kulit.

Baca juga: 8 Ciri-ciri Kanker Payudara Tahap Awal, Tak Selalu Benjolan

7. Penyakit Menular Seksual (PMS)

PMS adalah infeksi bakteri, parasit atau virus yang penularannya berasal dari hubungan seks dengan penderita yang terinfeksi penyakit.

Terdapat lebih dari 20 jenis PMS. Penyakit pada sistem reproduksi ini bisa menyerang pria maupun wanita, namun efeknya lebih berdampak pada wanita.

Ibu hamil yang menderita PMS bisa berdampak serius pada kesehatan bayinya.

Penggunaan kondom dengan benar bisa menjadi cara mencegah penyakit pada sistem reproduksi wanita ini.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X