Kompas.com - 15/09/2020, 15:02 WIB
Ilustrasi seorang perempuan menekan perut bagian bawahnya karena masalah medis atau ginekologi AnetlandaIlustrasi seorang perempuan menekan perut bagian bawahnya karena masalah medis atau ginekologi

KOMPAS.com – Pernahkah Anda merasa sulit menahan kencing atau buang air kecil (BAK)?

Jika pernah, salah satu kondisi medis yang bisa menyebabkan kondisi tersebut adalah inkontinensia urine (UI).

Inkontinensia urine adalah keluarnya urine di luar kehendak, sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan maupun sosial.

Baca juga: Penis Jarang Ereksi Saat Bangun Tidur pada Pagi Hari, Normalkah?

Meski bukan termasuk kondisi yang mengancam jiwa, inkontinensia urine tetap saja bisa memengaruhi kualitas hidup seseorang karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti hubungan interpesolan, interaksi sosial, kesehatan psikologis, termasuk seksual.

Gejala inkontinensia urine

Gejala inkontinensia urine sebenarnya bervariasi atau tidak hanya sulit menahan kencing.

Melansir Health Line, berikut ini beberapa tipe inkontinensia urine beserta gejalanya masing-masing yang dapat dikenali:

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Sulit Menahan Kencing? Waspadai Kondisi Medis Ini
Sulit menahan kencing bisa menjadi tanda adanya kondisi medis inkontinensia urine (UI) yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bagikan artikel ini melalui

1. Inkontinensia urin tekanan (stress incontinence)

Urin keluar ketika ada peningkatan tekanan pada kandung kemih karena adanya batuk, bersin, tertawa, atau ketika mengangkat beban berat atau berolahraga.

2. Inkontinensia urin desakan (urge incontinence)

Timbul rasa ingin kencing yang tiba-tiba dan mendesak atau kebelet yang diikuti dengan keluarnya urine.

Jumlah urine yang dikeluarkan pun meningkat, termasuk pada malam hari.

Kondisi ini bisa terjadi akibat adanya infeksi atau adanya kondisi yang lebih serius, seperti gangguan saraf pada penderita diabetes.

Baca juga: Penyebab Penis Ereksi Saat Bangun Tidur pada Pagi Hari

3. Inkontinensia urine campuran (mixed incontinence)

Urine keluar karena adanya faktor gangguan gabungan, antara inkontinensia tekanan dan tekanan.

4. Inkontinensia urin luapan (overflow incontinence)

Ditandai dengan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih, seperti mengejan, pancaran urine lemah, tidak tuntas, dan kandung kemih terasa penuh.

5. lnkontinensia urin kontinua (continuous incontinence)

Gejalanya ditandai dengan urine keluar secara terus menerus.

Untuk beberapa kondisi, inkontinensia urine perlu segera ditangani oleh dokter untuk mencegah komplikasi atau kondisi yang memburuk.

Baca juga: 10 Penyebab Urine Keruh, Bisa Jadi Gejala Diabetes hingga Penyakit Ginjal

Anda disarankan untuk segera menghubungi dokter jika mendapati gejala inkontinensia urine berikut:

  • Salah satu bagian tubuh terasa lemas
  • Bagian tubuh kesemutan
  • Gangguan berjalan
  • Gangguan bicara
  • Penglihatan kabur
  • Tidak dapat menahan buang air besar (BAB) juga
  • Penurunan kesadaran

Faktor risiko inkontinensia urine

Kelima jenis inkontinensia urine di atas dapat dialami oleh siapa saja, tergantung faktor risiko yang dimiliki masing-masing orang.

Melansir Cleveland Clinic, berikut ini beberapa faktor risiko inkontinensia urine yang dapat dipahami:

1. Usia lanjut

Ketika seseorang bertambah usia, kekuatan otot-otot di kandung kemih dan uretra menurun, sehingga menyebabkan urine tidak dapat ditahan secara optimal.

Inkontinensia juga sering kali menjadi bagian dari sindrom geriatri atau sekumpulan masalah kesehatan yang terjadi pada lansia.

Baca juga: Penyebab Urine Berbusa dan Cara Mengatasinya

2. Jenis kelamin wanita

Inkontinensia urine dilaporkan lebih banyak menyerang wanita dibandingkan pria.

Pada wanita lebih sering terjadi inkontinensia tekanan yang disebabkan oleh kehamilan, proses persalinan, menopause, dan anatomi traktus urinarius wanita.

Sedangkan pada pria, lebih sering terjadi inkontinensia desakan dan luapan yang disebabkan oleh masalah prostat.

3. Berat badan berlebih

Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada kandung kemih dan otot sekitarnya.

Tekanan ini bisa juga membuat otot menjadi lemah dan membuat urine lebih cepat keluar, terutama saat batuk atau bersin.

Baca juga: 6 Penyebab Urine Berwarna Kuning Tua dan Cara Mengatasinya

4. Merokok

Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko inkontinensia urin karena nikotin dapat membuat kandung kemih lebih aktif dari biasanya.

5. Riwayat keluarga

Risiko seseorang mengalami inkontinensia urine akan meningkat jika memiliki anggota keluarga yang lebih dulu mengalami inkontinensia urine, terutama inkontinensia desakan.

6. Kondisi medis lainnya

Penyakit seperti gangguan saraf, gangguan imun, dan diabetes dapat meningkatkan risiko inkontinensia urine.

Penyebab inkontinensia urine

Inkontinensia urine ada yang bersifat sementara dan menetap.

Inkontinensia urine bersifat sementara dapat disebabkan oleh pengaruh minuman, makanan, dan obat-obatan tertentu yang merangsang kandung kemih dan meningkatkan volume urine.

Baca juga: Waspadai Penyebab Urine Berwarna Hijau, Merah, Ungu, Oranye, dan Seperti Teh

Beberapa makanan dan minuman yang bisa menyebabkan inkontinensia urine antara lain, yakni:

  • Alkohol
  • Kafein
  • Minuman yang mengalami proses karbonasi atau soda
  • Pemanis buatan
  • Cokelat
  • Cabai
  • Makanan yang banyak memakai bumbu dan banyak gula
  • Makanan yang bersifat asam, seperti jeruk

Sedangkan sejumlah obat-obatan yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami inkontinensia urine, yakni:

  • Obat untuk penyakit jantung dan hipertensi
  • Obat penenang
  • Pelemas otot
  • Suplemen vitamin C dosis tinggi

Baca juga: Batas Konsumsi Vitamin C dan Bahayanya jika Sampai Berlebihan

Sementara itu, inkontinensia urine menetap bisa terjadi karena adanya kondisi atau perubahan fisik seseorang seperti:

  • Kehamilan
  • Proses persalinan
  • Pertambahan usia (degeneratif)
  • Menopause
  • Operasi pengangkatan rahim
  • Pembesaran prostat
  • Kanker prostat
  • Riwayat operasi daerah panggul
  • Sumbatan traktus urinarius
  • Gangguan saraf

Inkontinensia urine menetap juga dapat disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti infeksi saluran kencing (ISK) dan konstipasi.

Cara mengobati inkontinensia urine

Terapi inkontinensia urine dapat dilakukan tergantung dari tipe kelainan yang dialami, derajat, dan penyebab yang mendasarinya.

Baca juga: 12 Penyakit Menular Seksual yang Harus Diwaspadai

Penanganan awal pada inkontinensia tekanan, desakan, dan campuran, meliputi:

  • Anjuran untuk memperbaiki gaya hidup, seperti menjaga berat badan ideal, mengurangi asupan kafein, dan berhenti merokok
  • Melakukan terapi fisik atau fisioterapi, seperti latihan otot dasar panggul, penggunaan biofeedback, dan stimulasi elektrik
  • Pengaturan jadwal berkemih
  • Terapi perilaku
  • Pemberian obat-obatan

Sedangkan penanganan awal pada kasus inkontinensia urine luapan dan kontinu bergantung pada sebab yang mendasarinya.

Misalnya, jika penyebab inkontinensia urine karena ada pembesaran prostat jinak, kemungkinan diperlukan tindakan operasi.

Cara mencegah inkontinensia urine

Inkontinensia urine pada dasarnya dapat dicegah sejak dini.

Melansir Medical News Today, berikut ini adalah beberapa cara mencegah inkontinensia urine yang dapat dilakukan:

  • Menjaga berat badan ideal, sehingga tidak memicu penyakit-penyakit lain yang bisa memicu inkontinensia urine
  • Rutin melatih otot dasar panggul
  • Hindari kafein, alkohol, dan makanan yang bersifat asam
  • Konsumsi makanan berserat, untuk mencegah konstipasi yang dapat menyebabkan inkontinensia urin
  • Hindari atau berhenti merokok

Segeralah ke dokter spesialis bedah urologi jika Anda memang mulai merasakan gejala inkontinensia urine.

Baca juga: Penyebab Urine Berbusa dan Cara Mengatasinya

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lesi Kulit

Lesi Kulit

Penyakit
Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Benarkah Tidur dengan Rambut Basah Bisa Memicu Penyakit?

Health
Badan Lemas

Badan Lemas

Penyakit
Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Fenomena Gancet saat Berhubungan Seksual, Bagaimana Fakta Medisnya?

Health
Pinggiran Lidah Bergelombang

Pinggiran Lidah Bergelombang

Penyakit
3 Cara Mengobati Kencing Batu

3 Cara Mengobati Kencing Batu

Health
Infeksi Parasit

Infeksi Parasit

Penyakit
Lidah Geografik

Lidah Geografik

Penyakit
Bibir Sobek

Bibir Sobek

Penyakit
Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Cedera Olahraga, Pentingnya “Sedia Payung Sebelum Hujan” Bagi Atlet

Health
Kaki Panjang Sebelah

Kaki Panjang Sebelah

Penyakit
Kisah M. Habib Shaleh, 'Lahir Kembali' setelah Koma Cedera Olahraga

Kisah M. Habib Shaleh, "Lahir Kembali" setelah Koma Cedera Olahraga

Health
Gangguan Elektrolit

Gangguan Elektrolit

Penyakit
4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

4 Teh Herbal yang Bisa Mengatasi Sembelit

Health
Leher Kaku

Leher Kaku

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.