Kompas.com - 25/04/2021, 18:04 WIB
Ilustrasi sosis Jerman Pixabay/iphotoclickIlustrasi sosis Jerman
  • Yang mau makan ada dulu, menjadi produk “budaya” dan “peradaban”
  • Jumlahnya tergantung permintaan
  • Dijual agar kecanduan
  • Memanuhi prinsip ekonimi
  • Butuh pembelaan dan penjelasan agar tampak “sehat”-nya di mana
  • Ada persyaratan label dan komposisi
  • Sejalan prinsip teknokrat, yakni tepat, cepat, akurat, efisiensi, praktis, murah

“Gampangnya begini, ambil contoh terong. Terong itu ‘makanan orang’. Beda cerita dengan boba yang populer sekarang ini. Itu ‘dagangan orang’ sebagai produk budaya. Tidak ada orang tua zaman dulu minum teh ditambahkan dengan bola-bola,” jelas dr. Tan.

Baca juga: 11 Alasan Konsumsi Gula Berlebihan Buruk untuk Kesehatan

Bahaya makan makanan ultra proses

Dia menjelaskan, ketimbang makanan uprpocessed food atau makanan tidak diproses seperti buah-buahan, sayuran, padi-padian, kacang-kacangan, telur, daging, dan lain sebagainya, makanan ultra proses jelas lebih tidak sehat ketika dikonsumsi.

Hal yang membuat makanan ultra proses tidak sehat bukan hanya kandungan zat gizi yang dianggap berisiko, melainkan juga terkait dengan perubahan fisik dan kimia yang terjadi akibat proses pengolahan tingkat tinggi.

Berdasarkan penelitian, dr. Tan menyebut beberapa masalah pangan ultra proses yang bisa terjadi, di antaranya yakni:

  • Sebagai pencetus obesitas
  • Pencetus gangguan gizi pada tumbuh kembang anak
  • Pencetus penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, sindom metabolik
  • Mudah didapat, praktis, ekonomis, atau bersifat adiktif karena makanan ini dirancang untuk menciptakan kecanduan

“Nah, selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah, apakah Anda sebenarnya selama ini sudah benar-benar masak atau cuma memproses produk ultra proses? Jangan-jangan Anda bikin sop, tapi proteinnya dari sosis. Pernah baca daftar komposisinya?” tutur dr. Tan.

Dia mengungkapkan, bahwa tidak aneh jika banyak orang, termasuk anak-anak doyan makan makanan ultra proses karena makanan ini dirancang agar bisa membuat kecanduan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kenapa anak doyan (makanan ultra proses)? Lidahnya dibentuk begitu, agar kecanduan. Hal ini menjadi ajaran masif di seluruh dunia, sehingga 25 persen kalori manusia bisa berasal dari produk ultra proses,” tutur dr. Tan.

Dia menekankan hingga saat ini belum ada penelitian yang menemukan manfaat konsumsi makanan ultra proses bagi kesehatan.

Baca juga: 5 Penyakit Akibat Konsumsi Gula Berlebihan, Tak Hanya Diabetes

 

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X