Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/09/2021, 05:00 WIB
Ariska Puspita Anggraini

Penulis

KOMPAS.com - Menurut data WHO, hampir 50 juta orang di dunia mengalami epilepsi atau ayan.

Risiko kematian dini pada penderita epilepsi tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum.

Celakanya lagi, sebagian besar diantara penderita epilepsi tersebut adalah anak-anak.

Data dari Journal of The American Academy of Pediatrics menyebutkan bahwa epilepsi adalah kondisi neurologis kronis yang paling sering terjadi pada anak-anak.

Baca juga: Mengompol

Apa itu epilepsi?

Epilepsi adalah suatu kondisi neurologis (mempengaruhi otak dan sistem saraf) di mana seseorang memiliki kecenderungan untuk mengalami kejang yang dimulai di otak.

Otak terdiri dari jutaan sel saraf yang menggunakan sinyal listrik untuk mengontrol fungsi tubuh, indera dan pikiran.

Jika sinyal terganggu, orang tersebut mungkin mengalami serangan epilepsi.

Apa yang terjadi selama kejang?

Ada banyak jenis kejang epilepsi. Jenis serangan epilepsi yang dialami anak bergantung pada area otak mana yang terpengaruh.

Beberapa anak mungkin mengalami kejang saat mereka tidur. Kejang saat tidur dapat memengaruhi pola tidur dan dapat membuat anak merasa lelah dan bingung keesokan harinya.

Saat mengalami kehang, penderita bisa saja menyadari apa yang terjadi. Namun, adapula yang tida sadarkan diri dan tidak memiliki ingatan apapun tentang kejang yang dialaminya.

Penyebab epilepsi pada anak

Beberapa anak mengembangkan epilepsi sebagai akibat dari otak mereka yang terluka.

Hal ini bisa disebabkan oleh cedera kepala yang parah, kesulitan saat lahir, atau infeksi yang mempengaruhi otak seperti meningitis.

Epilepsi akibat penyebab struktural yang diketahui seperti ini kadang-kadang disebut epilepsi simtomatik.

Kemungkinan seorang anak mengalami epilepsi bisa karena faktor genetik.Dengan kata lain, bisa saja anak yang terdiagnosis epilepsi sebenarnya memiliki cedera otak serupa namun tidak mengalami epilepsi.

Baca juga: Lumpuh Otak

Diagnosis epilepsi dapat dipertimbangkan jika anak Anda mengalami lebih dari satu kali kejang.

Karena itu, orangtua sebaiknya segera memeriksakan si buah hati ke dokter ketika mengalami kejang. Dokter anak mungkin juga menyarankan beberapa tes untuk membantu diagnosis.

Tes saja tidak dapat mengkonfirmasi atau mengesampingkan epilepsi, tetapi cara ini dapat memberikan informasi tambahan untuk membantu mengetahui mengapa anak Anda mengalami kejang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com