Kompas.com - 28/09/2021, 10:03 WIB

KOMPAS.com – Penyebab pembengkakan hati bisa bermacam-macam.

Masalah kesehatan yang dalam dunia medis dikenal sebagai hepatomegali ini pada dasarnya memang merupakan gejala dari penyakit, bukan penyakit itu sendiri.

Pembengkakan hati di sini bisa dipahami sebagai kondisi ketika organ hati membesar melebihi ukuran normal atau biasanya.

Baca juga: 13 Gejala Pembengkakan Hati yang Perlu Diwaspadai

Dilansir dari WebMD, ketika organ hati membesar secara signifikan, seseorang mungkin akan merasakan sensasai penuh di sisi kanan tubuhnya atau mungkin melaporkan beberapa ketidaknyamanan di area tersebut.

Penderita pembengkakan hati mungkin juga akan mengalami beberapa gejala yang menyertai dari masalah hati yang mendasarinya.

Ini mungkin termasuk:

  • Menguningnya kulit atau mata (jaundice)
  • Gatal-gatal
  • Mual
  • Kelelahan
  • Urine gelap
  • Perubahan kebiasaan buang air besar (BAB)
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Demam

Seseorang yang mengalami kondisi yang mengarah pada gejala pembengkakan hati perlu berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat membantu memastikan penyebab gejala yang terjadi. Dokter juga bisa memberikan saran pengobatan terbaik atas masalah kesehatan yang telah teridentifikasi.

Baca juga: 11 Makanan yang Baik untuk Kesehatan Hati

Penyebab pembengkakan hati

Pada dasarnya memang ada banyak kemungkinan penyebab hepatomegali.

Beberapa penyebab pembangkakan hati yang paling umum termasuk:

1. Hepatitis

Melansir Medical News Today, hepatitis adalah istilah medis untuk peradangan hati.

Hepatitis biasanya terjadi sebagai akibat dari infeksi virus atau kerusakan hati akibat alkohol, obat-obatan, bahan kimia, maupun suplemen gizi.

Kondisinya bisa jangka pendek (akut) atau jangka panjang (kronis).

Baca juga: 6 Penyebab Hepatitis A yang Perlu Diwaspadai

2. Penyakit hati alkoholik

Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan sel-sel lemak di hati.

Dokter menyebut kondisi tersebut sebagai steatosis.

Steatosis dapat mengganggu kemampuan hati untuk menjalankan fungsi vitalnya.

Dalam kasus yang parah, penyakit hati alkoholik atau alcoholic liver disease (ALD) dapat menyebabkan jaringan parut hati yang parah atau sirosis hati.

3. Penyakit perlemakan hati non-alkoholik

Penyakit perlemakan hati non-alkoholik atau nonalcoholic fatty liver disease (NAFDL) juga ditandai dengan steatosis dan disfungsi hati terkait.

Tidak seperti penyakit hati alkoholik, NAFDL bukan akibat dari konsumsi alkohol yang berlebihan.

Penyakit hati ini biasanya karena kondisi seperti diabetes atau diet yang tinggi lemak dan kolesterol.

Baca juga: 3 Penyebab Perlemakan Hati yang Perlu Diwaspadai

4. Kanker hati

Kanker yang berasal dari hati dikenal sebagai kanker hati primer.

Sedangkan kanker yang menyebar ke hati dari bagian tubuh lain disebut sebagai kanker hati sekunder.

5. Penyakit liver lainnya

Merangkum Mayo Clinic, beberapa penyakit liver lainnya juga dapat menjadi penyebab pembengkakan hati.

Ini mungkin termasuk:

  • Gangguan yang menyebabkan protein abnormal menumpuk di hati (amiloidosis)
  • Kelainan genetik yang menyebabkan tembaga menumpuk di hati (penyakit Wilson)
  • Gangguan yang menyebabkan zat besi menumpuk di hati (hemachromatosis)
  • Gangguan yang menyebabkan zat lemak menumpuk di hati (penyakit Gaucher)
  • Kantong berisi cairan di hati (kista hati)
  • Tumor hati non-kanker, termasuk hemangioma dan adenoma
  • Obstruksi kandung empedu atau saluran empedu

Baca juga: 13 Gejala Perlemakan Hati yang Perlu Diwaspadai

6. Gagal jantung

Vena portal adalah vena yang menyediakan darah ke hati.

Gagal jantung dapat menyebabkan masalah peredaran darah yang meningkatkan tekanan pada vena portal.

Seiring waktu, kondisi ini dapat menjadi penyebab pembengkakan hati.

Beberapa dokter menyebut masalah hati terkait jantung sebagai cardiac liver.

Diagnosis penyebab pembengkakan hati

Untuk mendiagnosis pembengkakan hati, dokter dapat melakukan beberapa tindakan berikut:

  • Melihat riwayat medis pasien secara menyeluruh
  • Sentuh atau tepuk ringan perut untuk merasakan ukuran dan konsistensi hati dan untuk melihat apakah hati sensitif terhadap sentuhan
  • Memesan tes darah untuk mencari infeksi dan memeriksa kadar enzim hati yang berbeda
  • Memesan tes pencitraan, seperti CT-scan, ultrasound (USG) atau MRI
  • Mengambil sampel, atau biopsi, dari jaringan hati untuk analisis lebih lanjut

Baca juga: 12 Gejala Kanker Hati Stadium 4, Penyebab, dan Cara Mengobatinya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.