Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 16/12/2021, 12:01 WIB

KOMPAS.com - Spinal cord injury atau cedera tulang belakang bisa memengaruhi bagian saraf dan menyebabkan cacat permanen sampai kematian.

Penyebab spinal cord injury biasanya karena kecelakaan, jatuh, cedera, atau infeksi bakteri dan virus.

Ketua Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Jakarta Dr. dr. Wawan Mulyawan, SpBS(K) menyampaikan, kasus cedera saraf tulang belakang relatif lebih jarang jika dibandingkan dengan cedera otak. Namun, dampaknya cukup serius.

Baca juga: Kenali Apa itu Spinal Cord Injury, Gejala, dan Penyebabnya

“Kasus cedera saraf tulang belakang jumlahnya tidak sebanyak cedera pada otak,” jelas dia, melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (15/12/2021) malam.

Menurut perkiraan secara global, dari 1.000.000 penduduk terdapat 300-1.300 orang yang mengidap cedera saraf tulang belakang.

Dengan asumsi tersebut, diperkirakan di Indonesia ada sekitar 200.000 orang yang menderita cedera saraf tulang belakang.

Apa akibat spinal cord injury?

Sumsum tulang belakang adalah salah satu bagian penting dari jaringan sistem saraf pusat.

Terdapat sekitar 20 juta akson atau taji sel saraf yang tersusun di jalur sumsum tulang belakang dari bagian leher sampai ke panggul.

Sistem saraf ini berfungsi untuk mengirimkan perintah dari otak ke tubuh, seperti mengendalikan otot gerak, mengontrol kinerja jantung, usus, dan organ lain.

Selain itu, sistem saraf tulang belakang juga menjalankan fungsi sensorik atau mengirimkan sinyal dari kulit, otot, atau organ tubuh ke otak.

Wawan menjelaskan, spinal cord injury bisa menyebabkan kerusakan langsung (primer) dan kerusakan tidak langsung (sekunder) pada saraf tulang belakang.

Kerusakan langsung saraf tulang belakang umumnya terjadi akibat trauma pada tulang belakang.

“Tulang yang retak atau patah dapat menekan sampai merobek saraf sumsum tulang belakang. Berat ringannya kerusakan saraf tergantung tekanan pada saraf, berat ringannya hantaman, lamanya tekanan, dan pertolongan medis,” kata dia.

Baca juga: 10 Komplikasi Spinal Cord Injury yang Perlu Diwaspadai

Cedera tulang belakang atau spinal cord injury yang lengkap bisa menyebabkan kelumpuhan permanen.

Namun, jika saraf tidak banyak yang rusak dan penderita segera diberikan pertolongan medis tepat, ada kemungkinan kondisi penderita membaik.

Konsultan Bedah Saraf Tulang Belakang RSU Bunda ini juga menyebutkan, saraf tulang belakang bisa mengalami kerusakan sekunder akibat penderita terlambat mendapatkan ditangani tim medis atau penanganan medis tidak tepat.

Akibatnya, kerusakan saraf yang semestinya ringan menjadi lebih berat dan dampak kerusakannya bisa permanen.

“Dalam beberapa menit setelah kecelakaaan atau cedera, jika penderita tidak segera ditangani, pengiriman nutrisi dan oksigen ke sel saraf terhambat. Akibatnya, sel saraf akhirnya mati permanen,” jelas dia.

Selain itu, spinal cord injury yang tidak segera mendapatkan penanganan medis tepat dan cepat bisa menyebabkan sel saraf rusak sendiri.

Kondisi ini disebabkan kerusakan saraf memantik produksi bahan kimia beracun yang disebut zat radikal bebas.

Baca juga: Cedera Kepala, Kapan Perlu Waspada?

Apa bahaya spinal cord injury?

Wawan menyampaikan sel saraf pusat, termasuk yang terdapat di sumsum tulang belakang, ketika sudah mati tidak dapat digantikan sel baru yang sehat.

Ketika sel saraf tulang belakang rusak, penderita bisa mengalami gangguan fungsi sensorik (mati rasa) dan gangguan fungsi motorik (gerak). Berikut beberapa imbasnya:

  • Lengan, tangan, tungkai, atau kaki melemah sampai lumpuh
  • Gangguan buang air kecil atau besar
  • Suhu tubuh
  • Tekanan darah
  • Gangguan sirkulasi darah, sampai susah ereksi pada pria
  • Gangguan pernapasan, apabila spinal cord injury terjadi di tulang leher atas

Tak hanya terdampak langsung kerusakan saraf tulang belakang, penderita spinal cord injury juga bisa mengalami luka akibat tubuh terlalu lama berbaring (decubitus).

Bahaya spinal cord injury lainnya yakni penderita rawan terkena infeksi karena daya tahan tubuhnya melemah dan tekanan darah rawan melonjak. Kondisi ini apabila tidak dikontrol dapat mengancam jiwa.

Baca juga: 6 Obat Keseleo Alami untuk Cedera Ringan

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+