Kompas.com - 12/07/2022, 22:25 WIB

KOMPAS.com - Cara mencegah penyakit jantung koroner atau dikenal awal sebagai penyakit jantung, ternyata perlu diupayakan sejak dini.

Pasalnya, penyakit ini tidak muncul secara tiba-tiba, tapi prosesnya bisa berjalan perlahan-lahan selama beberapa dekade kehidupan.

Sebelum mengenali beberapa cara mencegahnya, simak dulu beberapa faktor penyebab penyakit jantung yang ternyata bisa berasal dari kebiasaan kurang sehat sejak kecil berikut ini.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Penyakit Jantung

Penyebab penyakit jantung

Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Sukman Tulus Putra, SpA(K) menjelaskan, penyakit jantung dan pembuluh darah biasanya dideteksi saat dewasa atau usia lanjut. Tapi, proses terjadinya penyakit ini bisa dimulai sejak dini, ketika seseorang masih anak-anak dan remaja.

Menurut Sukman, penyebab penyakit jantung utamaya berasal dari aterosklerosis atau penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri karena penumpukan plak kolesterol dan zat selama bertahun-tahun.

Ketua Purna Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menyebutkan, ada beberapa faktor penyebab penyakit jantung terkait aterosklerosis yang bisa dimulai sejak penderita masih bayi sampai remaja, di antaranya:

  • Nutrisi kurang tepat

Pemberian ASI eksklusif sejak bayi lahir sampai usia enam bulan ternyata berdampak signifikan pada kondisi pembuluh darah arteri di masa depan.

Penelitian membuktikan, bayi yang diberi ASI eksklusif saat remaja kondisi tunika intima media arteri karotisnya lebih tipis dan sehat dibandingkan remaja yang saat bayi diberi susu formula atau ASI kurang dari empat bulan.

Tes tunika intima media arteri karotis digunakan untuk mengukur tingkat ketebalan lapisan bagian dalam arteri karotis. Semakin tebal arteri karotis, seseorang lebih berisiko terkena aterosklerosis.

Baca juga: 8 Cara Menjaga Kesehatan Jantung yang Perlu Dilakukan Setiap Hari

  • Kurang gerak

Anak yang memiliki kebiasaan kurang gerak juga bisa meningkatkan risiko aterosklerosis di masa depan.

Seperti diketahui, belakangan banyak anak yang jarang bermain di luar rumah dan banyak menghabiskan waktu bermain gawai atau menonton televisi di rumah.

Gaya hidup sedentari seperti ini cenderung minim mengeluarkan kalori, sehingga anak rentan mengalami penumpukan kalori sejak dini.

  • Paparan rokok

Paparan rokok atau produk tembakau di rumah secara berlebihan sejak anak balita ternyata juga bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, terutama penyakit jantung koroner.

Risiko ini meningkat pesat apabila sewaktu remaja, anak di bawah umur ini sudah icip-icip rokok dan melanjutkan kebiasaannya menjadi perokok aktif saat dewasa.

Baca juga: 13 Gejala Penyakit Jantung yang Kerap Tidak Disadari Pengidapnya

  • Penyebab lainnya

Selain faktor risiko di atas, seseorang juga berisiko terkena penyakit jantung apabila memiliki kolesterol tinggi, obesitas atau berat badan berlebih, gula darah tinggi, dan tekanan darah tinggi.

Di luar faktor terkait gaya hidup tidak sehat di atas, ada faktor genetik, lingkungan, peradangan atau infeksi sistemik yang cenderung tidak dapat dikendalikan.

“Deteksi faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah melalui uji tapis pada usia anak dan remaja bisa jadi kunci untuk menurunkan angka kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah,” jelas Sukman, melalui siaran pers yang diterima Kompas.com (11/7/2022).

Jika anak dan remaja termasuk kelompok berisiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, orangtua dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter.

Selain itu, coba beberapa cara mencegah penyakit jantung untuk mengantisipasi penyakit ini sejak dini.

Baca juga: Gejala Kelainan Jantung Bawaan pada Bayi, Anak, dan Dewasa

Cara mencegah penyakit jantung sejak dini

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sekaligus ahli kardiologi anak dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) membagikan beberapa cara menjaga kesehatan jantung sejak dini, di antaranya:

  • Lakukan pemeriksaan jantung secara berkala sejak dini

Kesehatan jantung anak sebenarnya bisa dipantau sejak bayi lahir lewat pemeriksaan echo kardiografi.

Alat ini dapat mendeteksi jika ada kelainan jantung pada anak. Ketika ada penyakit jantung bawaan, dokter bisa segera membantu mengontrol masalah kesehatan ini lewat pengobatan atau tindakan medis khusus.

Selain itu, jika anak termasuk kelompok berisiko terkena penyakit jantung, orangtua juga perlu konsultasi ke dokter untuk memantau berat badan, tekanan darah, gula darah, sampai kolesterol anak.

  • Pastikan anak aktif bergerak dan rutin olahraga

Orangtua juga perlu membangun gaya hidup aktif di rumah. Hindari aktivitas yang banyak duduk-duduk atau rebahan dan minim gerak.

Upayakan seluruh keluarga terbiasa aktif bergerak, rutin olahraga bersama. Ajak anak untuk terbiasa jalan kaki, bersepeda, atau bermain di ruang terbuka di luar rumah.

Baca juga: Manfaat ASI Eksklusif Cegah Penyakit Kardiovaskular, Ini Kata Ahli...

  • Batasi waktu menonton atau di depan layar gawai

Salah satu biang gaya hidup sedentari yang minim pembakaran kalori adalah kebiasaan duduk-duduk atau rebahan. Hal ini sangat terkait dengan waktu menonton televisi atau bermain gawai yang tidak dibatasi.

Terlebih jika aktivitas minim gerak ini disambi mengemil. Risiko obesitas atau berat badan berlebih faktor risiko penyakit jantung juga meningkat.

Untuk itu, pastikan orangtua menerapkan screen time atau batas waktu menatap layar baik komputer, televisi, atau telepon pintar sesuai usia anak. Upayakan jangan sampai lebih dari dua jam setiap hari.

  • Bangun iklim menyenangkan di rumah

Stres dan banyak tekanan juga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Untuk itu, orangtua perlu membangun iklim menyenangkan di rumah.

Biasakan kegiatan bermain bersama-sama, buat rutinitas makan bersama yang asyik, serta rutin jalan bersama anggota keluarga secara berkala.

Baca juga: 8 Penyebab Kelainan Jantung Bawaan yang Perlu Diwaspadai

  • Berikan asupan sehat setiap saat

Selain memberikan ASI eksklusif untuk bayi sejak lahir sampai minimal selama enam bulan, pastikan anak mulai usia enam bulan ke atas juga diberi asupan sehat sesuai tahap tumbuh kembangnya.

Berikan asupan protein hewani seperti telur, daging, ikan, ayam, untuk mencegah stunting.

Batasi atau hindari memberikan makanan cepat saji, makanan instan, makanan olahan, atau camilan makanan ringan yang biasanya tinggi gula, tinggi karbohidrat, dan tinggi kalori.

Makanan tersebut bisa meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik, faktor penyebab penyakit jantung.

Selain itu, periksa asupan garam, penyedap, dan aneka saus yang biasanya tinggi garam dan natrium.

Para orangtua sebaiknya mengupayakan beberapa cara mencegah penyakit jantung sejak dini di atas. Dengan begitu, risiko anak terkena penyakit berbahaya ini ke depan bisa diminimalkan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.