Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

7 Mitos tentang Pencernaan, Jangan Lagi Percaya

KOMPAS.com - Sistem pencernaan manusia bekerja keras dari saat kita memasukkan makana ke dalam mulut hingga mengeluarkan sisa-sisanya dalam bentuk tinja.

Organ utama saluran pencernaan manusia meliputi mulut, esofagus (kerongkongan), lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus. Sementara itu, organ-organ pencernaan pelengkap adalah mulut, kantung empedu, kelenjar air liur, hati, dan pankreas.

Organ-organ pada sistem pencernaan memiliki tugas dengan rincian berikut:

Melihat banyaknya tugas sistem pencernaan manusia, ada baiknya untuk mengetahui mitos dan fakta terkait organ pencernaan. Hal itu agar lebih mudah mendeteksi apabila ada gangguan kesehatan terkait saluran pencernaan.

1. Pencernaan membutuhkan waktu lama untuk mencerna permen karet

Banyak mitos terkait permen karet yang sering kita dengar, seperti:

  • Permen karet bisa menempel di lambung atau usus.
  • Pencernaan manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencerna permen karet.

Pada kenyataannya, permen karet bukan makanan yang harus ditelan. Umumnya, permen karet hanya dikunyah dan dihisap sampai rasa manisnya hilang lalu dikeluarkan dari mulut (dilepeh).

Jika tak sengaja tertelan, permen karet juga tidak akan merusak organ pencernaan Anda. Sama seperti makanan lain, permen karet akan keluar dalam bentuk tinja dalam beberapa hari.

2. Makanan pedas sebabkan bisul

Beberapa orangtua jaman dahulu berpikir bahwa makanan pedas dapat menyebabkan bisul. Kenyataannya, makanan pedas hanya menimbulkan sakit perut pada orang tertentu, namun tidak mengakibatkan timbulnya bisul.

Makanan pedas juga bukan satu-satunya penyebab sakit maag. Dikutip dari WebMD, sebagian besar luka di lapisan perut terjadi karena infeksi bakteri yang disebut Helicobacter pylori (H. pylori) atau karena obat nyeri seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen.

Orang yang tidak mengonsumsi alkohol dapat mengalami sirosis karena hepatitis B dan C.

4. Kacang sebabkan divertikulitis

Beberapa orang berpikir bahwa kacang dapat menyebabkan diverkulitis atau peradangan atau infeksi pada satu atau lebih kantong kecil di saluran pencernaan .

Mitos tersebut muncul karena adanya kekhawatiran bahwa kacang tidak bisa dicerna secara keseluruhan oleh pencernaan sehingga potongannya dapat tersangkut di kantong dan menyebabkan rasa sakit.

Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kacang-kacangan yang tinggi serat dapat mencegah diverkulitis dan meningkatkan kinerja usus.

5. Merokok dapat meredakan mulas

Beberapa perokok meyakini bahwa merokok dapat meredakan sakit perut, khususnya mulas. Kenyataannya, merokok justru dapat menambah rasa mulas.

Hal itu karena nikotin dapat mengendurkan otot di bagian atas perut yang menahan asam agar tidak kembali (refluks) ke kerongkongan.

Kebiasaan merokok dalam jangka waktu lama juga dapat menurunkan aliran darah menuju dinding lambung dan usus halus. Seiring waktu, hal ini menyebabkan infeksi, peradangan, dan tukak lambung.

6. Serat tidak dapat mengatasi diare

Beberapa orang mungkin menganggap tak masuk akal bahwa serat yang sering dimanfaatkan untuk mengatasi sembelit, ternyata juga dapat meredakan diare.

Tenyata, serat juga dapat mengatasi sembelit sekaligus meredakan diare. Nutrisi dari makanan berserat membantu menjaga tinja agar tidak terlalu keras hingga atau lembek.

Beberapa makanan sumber serat yang baik untuk meredakan diare contohnya adalah pisang, nasi, apel yang dihaluskan, dan roti panggang.

7. Kolonoskopi adalah tindakan medis yang mengerikan

Kolonoskopi adalah tindakan medis untuk melihat bagian dalam usus besar atau kolon. Prosedur ini bertujuan untuk mendeteksi luka, iritasi, polip, atau kanker pada usus besar dan rektum.

Beberapa orang mungkin menganggap kolonoskopi adalah tindakan yang menakutkan. Nyatanya, prosedur ini hanya berlangsung sekitar 30-60 menit dan Anda akan menerima bius.

Hanya saja, sebelum melakukan kolonoskopi seseorang harus mengosongkan usus besar dengan minuman pencahar satu hari sebelum tindakan.

https://health.kompas.com/read/2022/10/31/160300568/7-mitos-tentang-pencernaan-jangan-lagi-percaya

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke