Kompas.com - 30/04/2014, 16:53 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

 


KOMPAS.com --
Panggilan "gemuk" atau "gendut" sering kali digunakan untuk seseorang yang kelebihan berat badan. Namun, alih-alih menjadi motivasi agar mereka berusaha lebih keras menurunkan berat badannya, panggilan tersebut justru berdampak sebaliknya.

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan, anak gadis yang dipanggil "gemuk" cenderung menjadi obesitas saat mereka berusia dewasa muda.

Sebelumnya, penelitian lainnya juga telah menunjukkan bahwa label negatif pada seseorang akan memperburuk gaya hidup, bukan sebaliknya. Penelitian terbaru ini menguatkan bukti studi tersebut.

"Namun, bukan berarti memanggil anak gadis dengan panggilan 'gemuk' pasti membuatnya obesitas di kemudian hari," ujar penulis studi senior A Janet Tomiyama dari University of California.

Studi yang dipublikasi dalam JAMA Pediatrics tersebut, kata Tomiyama, melibatkan gadis-gadis yang saat awal periode studi berusia 10 tahun lalu diikuti hingga sembilan tahun. Dalam periode studi tersebut, para peneliti menanyakan jika mereka pernah dipanggil "gemuk" atau dikatakan terlalu gemuk oleh ayah, ibu, saudara kandung, sahabat, teman, atau guru.

Dari sekitar 2.000 anak, 1.188 menjawab "ya". Mereka yang menjawab "ya" cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT), pengukuran lemak tubuh berdasarkan perbandingan tinggi dan berat badan, yang masuk kategori obesitas dibandingkan mereka yang menjawab "tidak".

Rebecca Puhl, deputi direktur dari Rudd Center for Food Policy & Obesity di Yale University, mengatakan, telah banyak bukti yang menunjukkan remaja yang merasakan stigma atau malu karena berat badannya sangat rentan mengalami gangguan psikologis dan fisik.

"Studi ini menunjukkan, pelabelan negatif tentang berat badan berpotensi memberikan dampak negatif pula bagi anak perempuan," ujar Puhl yang tidak terlibat dalam studi.

Tomiyama mengatakan, dampak tersebut paling kuat bila datang dari anggota keluarga karena peningkatan risiko menjadi obesitas mencapai 60 persen. Sementara jika panggilan tersebut datang dari teman-teman dan guru, risikonya lebih rendah, yaitu 40 persen.

"Namun, tidak patut untuk menyimpulkan keluarga lebih berpengaruh karena ini hanya studi eksplorasi," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber foxnews
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Apa Perbedaan Vegetarian dan Vegan?

Health
4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

4 Tanda Diabetes yang Sering Tak Disadari

Health
8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

8 Makanan yang Dapat Menyehatkan kulit

Health
Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Mengapa Diabetes Dapat Menyebabkan Nyeri Sendi?

Health
4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

4 Cara Untuk Menstimulasi dan Mempercepat Proses Persalinan

Health
Splenomegali

Splenomegali

Penyakit
4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

4 Faktor Risiko Penyakit Jantung

Health
Orkitis

Orkitis

Penyakit
14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

14 Tips Merawat Kaki Penderita Diabetes

Health
Venustraphobia

Venustraphobia

Penyakit
10 Makanan dan Minuman untuk Redakan Sakit Perut

10 Makanan dan Minuman untuk Redakan Sakit Perut

Health
Hernia Epigastrium

Hernia Epigastrium

Penyakit
Kenali 11 Ciri-ciri Asam Lambung Naik

Kenali 11 Ciri-ciri Asam Lambung Naik

Health
Insufisiensi Trikuspid

Insufisiensi Trikuspid

Penyakit
Apakah Kerusakan Saraf Akibat Diabetes Bisa Disembuhkan?

Apakah Kerusakan Saraf Akibat Diabetes Bisa Disembuhkan?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.