Kompas.com - 05/09/2015, 17:00 WIB
EditorLusia Kus Anna
TUAL, KOMPAS — Sebagian penduduk di Indonesia, misalnya masyarakat di Kepulauan Tanimbar dan Kei, Provinsi Maluku, secara tradisional pemakan umbi-umbian. Namun, generasi muda mulai beralih ke beras. Perubahan pola makan itu mengancam kedaulatan pangan sekaligus memicu berbagai gangguan pencernaan.

 "Masyarakat Indonesia memiliki DNA mitokondria yang punya kadar basa T16189C dengan persentase di atas 30-40 persen, bahkan Nias 60 persen, jadi yang tertinggi," kata Herawati Sudoyo, ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jumat (4/9) di Tual, Maluku.

Gen itu umumnya memicu kecenderungan untuk menderita diabetes melitus. "Dari studi kami, masyarakat Alor punya persentase rendah, yakni 10 persen, dan Sumba 20 persen," ujarnya.

Herawati dan tim peneliti dari Lembaga Eijkman ada di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, untuk meneliti genetika masyarakat. Riset itu terkait asal-usul migrasi dan kerentanan terhadap penyakit tertentu.

"Hasil studi genetika pada populasi Alor, ternyata mereka memiliki 95 persen gen Papua. Sebaliknya, pada masyarakat Indonesia lain, gen Papua-nya amat kecil, di bawah 5 persen. Masyarakat yang gen Papua-nya sangat kecil ini memiliki DNA mitokondria dengan kadar basa T16189C tinggi," ujarnya.

Masalahnya, data yang dimiliki Eijkman tentang genetika masyarakat di dekat Pulau Papua amat terbatas. Karena itu, studi genetika yang kini dilakukan Eijkman di Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Kei punya signifikansi tinggi untuk menjawab kekosongan data.

"Kami belum tahu berapa persen gen Papua masyarakat Tanimbar dan Kei, dan berapa kadar basa T16189C- nya. Dalam beberapa bulan ini, hasil laboratorium akan ketahuan," ujarnya.

Selain persoalan genetika, menurut Herawati, diabetes melitus dipengaruhi pola diet. Makanan padi-padian memiliki indeks glikemik lebih tinggi, sehingga bisa meningkatkan risiko terkena diabetes melitus, terutama bagi masyarakat yang memiliki DNA mitokondria T16189C tinggi.

"Idealnya, masyarakat Nias yang secara tradisional mengonsumsi sagu tak beralih ke padi-padian. Sagu memiliki indeks glikemik lebih rendah," ucapnya.

Kecenderungan secara nasional saat ini, masyarakat pemakan umbi-umbian atau sagu makin banyak yang berubah jadi pemakan padi-padian. Hal itu juga disebabkan kebijakan pemerintah tentang ketahanan pangan yang bias ke beras. Bahkan, di sejumlah daerah yang secara tradisional masyarakatnya pemakan umbi dan sagu, lahannya juga ditanami padi, misalnya di Halmahera dan Merauke.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.