Kanker Leukemia Jenis CML Tak Boleh Putus Obat, Ini Alasannya!

Kompas.com - 23/09/2016, 17:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengobatan kanker yang diketahui pada umumnya adalah dengan kemoterapi dan radioterapi. Namun, pada pasien Chronic Myeloid Leukimia (CML) atau Leukemia Granulositik Kronis (LGK), kanker diatasi dengan minum obat atau terapi target.

Ahli hematologi onkologi medik RS Kanker Dharmais, dr. Hilman Tadjoedin Sp.PD, KHOM memaparkan, obat yang diminum oleh pasien CML bertujuan untuk menurunkan kadar gen BCR-ABL sampai tidak terdeteksi di dalam tubuh.

BCR-ABL adalah protein abnormal yang memerintahkan sumsum tulang untuk memroduksi sel-sel kanker darah putih abnormal. Adapun BCR-ABL merupakan hasil mutasi kromosom 9 dan 22 yang disebut kromosom Philadelphia.

"Dengan minum obatnya teratur, dalam waktu 12 bulan, harapannya kadar BCR-ABL sudah dibawah 0,1 persen. Kemudian target berikutnya sampai tidak terdeteksi," jelas Hilman di Jakarta, Kamis (23/9/2016).

BCR-ABL dinyatakan sudah tidak terdeteksi di dalam tubuh jika kadarnya di bawah 0,0032 persen. Untuk mencapai waktu 12 atau 18 bulan, pasien tak boleh putus minum obat. Bahkan, jika BCR-ABL sudah tidak terdeteksi, minum obat pun harus terus dilanjutkan seumur hidup.

Jika tidak rutin atau berhenti minum obat, jumlah sel darah putih yang abnormal bisa bertambah banyak.

Hilman menceritakan, ada pasien dengan BCR-ABL yang sudah tidak terdeteksi, kemudian menghentikan pengobatan setelah dua tahun. Yang terjadi adalah, pasien tersebut memiliki kadar sel darah putih yang sangat tinggi, yaitu 500.000.

"LGK bisa berakibat fatal jika jumlah sel darah putih terlalu banyak. Sel darah putih normalnya sampai 10.000. Kalau jumlah sel darah putih terlalu banyak bisa mengenai otak, angka keberhasilan jadi tidak bagus," ungkap Hilman.

Hilman menjelaskan, otak atau di kepala merupakan bagian yang banyak sekali terdapat pembuluh darah halus dan sangat sensitif. Ketika terjadi leukostasis atau peningkatan sel darah putih yang berlebihan, otak adalah bagian yang sangat mudah terjangkit.

"Kalau terkena di tempat yang vital, seperti otak, bisa jadi susah bicara. Kebayang, kan otak itu seperti komputer kita. Kalau sudah terjadi leukostasis bisa terjadi banyak gangguan hingga meninggal dunia," lanjut Hilman.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X