Kompas.com - 09/01/2020, 16:00 WIB
Ilustrasi berkeringat AntonioGuillemIlustrasi berkeringat

KOMPAS.com - Tubuh kita biasanya berkeringat saat cuaca panas, stres, marah, atau sedang beraktivitas.

Tapi, ada kalanya keringat yang dikeluarkan tubuh cukup banyak dan mengusik kenyamanan.

Keringat berlebih atau hiperhidrosis biasanya mampir di badan, ketiak, atau telapak tangan. 

Kondisi tersebut membuat sebagian orang menjadi tidak percaya diri atau minder. Pasalnya, kerap mengganggu penampilan. Terkadang juga disertai bau tak sedap.

Kendati membuat orang merasa tidak nyaman, hiperhidrosis umumnya normal dan tidak berbahaya.

Namun, ada juga beberapa kondisi keringat berlebih yang perlu diwaspadai karena terkait beberapa penyakit.

Baca juga: Penyakit yang Bisa Sebabkan Keringat Berlebih

Penyebab keringat berlebih

Melansir Medical News Today, keringat berlebih secara umum dibagi menjadi dua, yakni:

1. Keringat berlebih primer (focal hyperhidrosis)

Kondisi ini membuat orang merasakan keringat berlebih di tangan, ketiak, wajah, dan telapak kaki.

Penyebabnya bisa karena stres, cemas, gugup, atau saat tubuh beraktivitas ekstra.

Studi lain menyebut, hiperhidorsis juga dipengaruhi faktor genetis atau keturunan.

2. Keringat berlebih sekunder (generalized hyperhidrosis)

Keringat berlebih di sebagian besar atau seluruh tubuh saat gerah bisa jadi indikasi kondisi kesehatan tertentu.

Beberapa penyakit yang terkait dengan keringat berlebih antara lain:

  • Cedera saraf tulang belakang
  • Kegelisahan
  • Diabetes
  • Encok
  • Penyakit jantung
  • Hipertiroidisme (kelenjar tiroid terlalu aktif)
  • Gula darah rendah (hipoglikemia)

Selain itu, keringat berlebih juga bisa menjadi indikasi penyakit:

  • Kegemukan
  • Penyakit parkinson
  • Kehamilan
  • Beberapa jenis kanker seperti penyakit hodgkin
  • Infeksi seperi HIV, malaria, TB (TBC)
  • Efek pengobatan antidepresan, alzheimer, glaukoma, dan tekanan darah tinggi

Diagnosis

Untuk memastikan keringat berlebih dalam kondisi normal atau tidak, dokter akan merekomedasikan tes darah dan urin.

Selain itu, ada juga tes keringat termoregulasi untuk menakar tingkat keparahan hiperhidrosis.

Tes ini dilakukan dengan membubuhkan bubuk yang sensitif pada kelembaban suhu kamar di kulit pasien.

Ketika ada keringat berlebih pada suhu kamar, bedak tersebut berubah warna.

Baca juga: Kenapa Kita Tidak Bisa Mencium Bau Badan Sendiri?

Cara mengatasi

Keringat berlebih bisa diatasi lewat berbagai cara, baik medis maupun nonmedis.

Melansir berbagai sumber, berikut cara mengatasi keringat berlebih:

1. Gunakan Antiperspiran

Sebagian besar antiperspiran mengandung garap aluminium. Zat aktifnya bekerja mencegah keringat berlebih dengan menghalangi keringat keluar.

Beberapa deodoran antiperspiran gampang ditemui di pasaran. Namun, jika kurang manjur, Anda bisa minta resep antiperspiran dari dokter.

Jangan hanya mengoles atau menyemprotkan antiperspiran pada pagi hari saja. Bila perlu, aplikasikan antiperspiran sebelum tidur. Agar bagian tubuh yang berkeringat tetap kering.

2. Pilih pakaian yang nyaman

Buat kita yang tinggal di negara tropis, jangan gunakan bahan pakaian yang tidak bisa menyerap keringat.

Pilih pakaian yang materialnya bisa membuat kulit bebas bernapas, seperti kain katun.

Jangan lupa bawa kaus atau pakaian ekstra, untuk berjaga saat tubuh tiba-tiba kegerahan.

3. Jaga telapak kaki tetap kering

Gunakan kaus kaki dengan bahan menyerap keringat saat bersepatu. Tujuannya, agar telapak kaki bebas lembab.

Saat memilih bantalan kaki, gunakan juga material yang bebas lembab agar telapak kaki tidak terasa gerah.

4. Mandi tiap hari

Bangun kebiasaan mandi setiap hari menggunakan sabun antibakteri.

Tujuannya, untuk mengontrol keringat berlebih dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan tak sedap.

Setelah mandi, keringkan tubuh sampai benar-benar tuntas. Baru gunakan antiperspiran agar efektif mencegah keringat berlebih.

Baca juga: Cuaca Panas, Waspada Biang Keringat pada Bayi

5. Hindari makanan pedas

Makanan pedas seperti cabai, lada, jahe, sampai minuman panas dapat menyebabkan tubuh berkeringat.

Saat mengonsumsi makanan pedas, tubuh kita merespons seperti tengah mengalami trauma saat stres. Tubuh pun berkeringat.

6. Kurangi asupan kafein

Kafein dalam makanan atau minuman yang kita konsumsi memengaruhi sistem saraf pusat.

Dampaknya, kelenjar keringat jadi aktif selepas minum kopi, teh, cokelat, dan asupan berkafein lainnya.

6. Tindakan medis

Ketika beberapa cara sederhana di atas tidak mempan, dokter akan merekomendasikan terapi atau pengobatan untuk mengatasi keringat berlebih.

Beberapa alternatifnya lewat suntik botox, pemberian obat antikolinergik, sampai operasi kelenjar keringat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.